Berita

Sebagian masyarakat tidak kuat bayar iuran, 50% sampah berakhir di kali

50% Limbah Indonesia Berakhir di Sungai Akibat Kendala Biaya Iuran

Masalah sampah di Indonesia mencapai titik kritis. Berdasarkan riset terbaru dari World Bank yang dipaparkan oleh Danantara Indonesia, separuh dari total sampah nasional tidak terkelola dengan benar, melainkan menumpuk di jalanan dan mencemari aliran sungai.

Akar Masalah: Beban Iuran bagi Masyarakat

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengungkapkan bahwa penyebab utama fenomena ini adalah ketidakmampuan ekonomi.

  • Faktor Biaya: Iuran sampah bulanan sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000 per rumah tangga dianggap masih membebani sebagian masyarakat.
  • Dampak Perilaku: Akibat tidak mampu membayar jasa angkut sampah di tingkat RT/RW, warga cenderung membuang sampah secara ilegal ke sungai atau pinggir jalan secara sembunyi-sembunyi.
  • Masalah Sisi Pemerintah: Saat ini, Pemda terbebani biaya tinggi untuk menyewa lahan Tempat Pembuangan Sampah (TPS), seperti kasus Bantar Gebang, yang justru lebih mahal daripada biaya operasional pengangkutan itu sendiri.

Solusi Strategis: Proyek Waste-to-Energy (WtE)

Untuk memutus rantai masalah ini, pemerintah melalui BPI Danantara mempercepat implementasi teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy.

Mengapa WtE Menjadi Kunci?

  1. Layanan Gratis bagi Warga: Konsep ini memungkinkan Pemda menggratiskan biaya angkut sampah dari rumah tangga karena sampah kini bernilai ekonomi sebagai bahan baku listrik.
  2. Efisiensi Anggaran Pemda: Pemerintah daerah tidak lagi perlu membayar sewa lahan pembuangan yang mahal karena sampah langsung diolah menjadi energi.
  3. Lingkungan Bersih: Mendorong masyarakat membuang sampah pada tempatnya karena sistem penjemputan yang lebih terintegrasi.

Target Pembangunan & Lokasi Proyek

Direktur Investasi Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menjelaskan linimasa pembangunan empat proyek percontohan PSEL di Indonesia:

  • Lokasi Proyek: Bekasi, Denpasar, dan Bogor (total 4 proyek).
  • Target Konstruksi: Mulai dibangun paling lambat akhir Juni atau awal Juli 2026.
  • Durasi Pembangunan: Estimasi rata-rata 2 tahun.
  • Target Operasional (COD):
    • Denpasar: Target selesai akhir 2027.
    • Bekasi: Target mulai beroperasi awal 2028.

Transisi dari sistem “buang-bayar” menjadi “olah-energi” diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah polusi sungai, tetapi juga meringankan beban finansial masyarakat kelas bawah serta mengoptimalkan anggaran daerah untuk infrastruktur yang lebih berkelanjutan.

sumber:
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8437247/sebagian-masyarakat-nggak-kuat-bayar-iuran-50-sampah-berakhir-di-kali

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO