Sleman Menuju Bebas Sampah: Pembangunan TPST Moyudan untuk Atasi Krisis Limbah

Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus berupaya mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks dengan menyusun rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) baru di Kapanewon Moyudan. Langkah ini menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan, sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman, Dwi Ananta Sudibyo , menjelaskan bahwa saat ini Kabupaten Sleman memiliki tiga TPST, dua di antaranya sudah beroperasi, sementara satu lainnya masih dalam tahap penyelesaian. “Persoalan sampah di Sleman cukup kompleks, sehingga membangun TPST baru menjadi salah satu cara efektif untuk mengatasinya. Pada 2025, kami akan membangun TPST baru di Kapanewon Moyudan,” ujarnya di Sleman, Selasa (24/2/2025).
Mengurai Masalah Sampah di Sleman
Sebelum diberlakukan kebijakan desentralisasi pengelolaan sampah, Kabupaten Sleman mengirim rata-rata 320 ton sampah per hari ke TPA Piyungan. Dengan adanya TPST baru, Pemkab Sleman bertekad untuk mengolah setidaknya jumlah sampah yang sama secara mandiri. Saat ini, dua TPST yang telah beroperasi adalah TPST Tamanmartani di Kapanewon Kalasan dan TPST Sendangsari di Kapanewon Minggir. Sementara itu, TPST Donokerto di Kapanewon Turi sedang memasuki tahap penyelesaian dan dilengkapi dengan tiga modul pengolahan, termasuk teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
“Setiap TPST dengan tiga modul bisa mengolah hingga 90 ton sampah per hari . Namun, jika masing-masing TPST mampu mencapai target pengolahan 60 ton per hari , maka total ada 240 ton sampah yang bisa diolah setiap harinya ,” jelas Dwi Ananta.
Rencana Ekspansi TPST
Selain TPST Moyudan yang akan mulai dibangun pada 2025, Pemkab Sleman juga merencanakan penambahan dua TPST lagi pada 2026 atau 2027. Dengan total enam TPST yang tersebar di berbagai wilayah, Sleman optimistis dapat mencapai target pengolahan 360 ton sampah per hari , melebihi jumlah sampah yang saat ini dikirim ke TPA Piyungan.
“Jika keenam TPST masing-masing mampu mengolah 60 ton sampah per hari, maka Sleman bisa menuntaskan masalah sampah secara signifikan,” tambah Dwi Ananta.
Teknologi dan Kesadaran Masyarakat
Untuk mendukung efisiensi pengelolaan sampah, transfer depo di berbagai lokasi juga telah dilengkapi dengan alat pengolahan modern. Setiap depo ditargetkan mampu mengolah 5 ton sampah per hari , dengan konsep agar sampah tidak dibawa ke tempat lain, melainkan diolah langsung di sumbernya.
Namun, kesuksesan program ini tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Menurut Dwi Ananta, peran serta masyarakat sangat penting dalam mengurangi volume sampah. “Kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah secara mandiri harus terus ditingkatkan. Dengan begitu, meskipun ada pertumbuhan penduduk, tambahan sampahnya tidak akan terlalu signifikan,” katanya.
Langkah Menuju Sleman Bersih
Pembangunan TPST Moyudan dan rencana ekspansi TPST lainnya menunjukkan komitmen Pemkab Sleman untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan kombinasi teknologi modern, perencanaan matang, dan partisipasi aktif masyarakat, Sleman berharap dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sampah yang efektif.
Mari kita dukung langkah ini demi masa depan Sleman yang bebas sampah dan ramah lingkungan!
Sumber Berita: Antara News
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




