Strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia (IBSAP) 2025 – 2045

Indonesia menempati posisi kedua di antara negara-negara megabiodiversity di dunia berdasarkan potensi keanekaragaman hayati yang dimilikinya1 (Gambar 1.1). Namun, nilai Global Biodiversity Index (GBI) Indonesia berpotensi lebih tinggi lagi jika menggunakan data dan informasi Indonesia dan mempertimbangkan keanekaragaman hayati laut Indonesia yang pengungkapannya masih terbatas.
Posisi geografis dan sejarah geologis Indonesia menjadikan bentang alam Indonesia terbagi menjadi 7 (tujuh) wilayah ekoregion dan tingkat endimisitas yang tinggi, yaitu Ekoregion Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pada aspek keanekaragaman ekosistem,
Indonesia memiliki 22 tipe ekosistem alami dengan 98 tipe vegetasi alami. Kekayaan keanekaragaman hayati spesies terestrial Indonesia meliputi 9,70 persen tumbuhan berbunga; 14.00 persen mamalia; 8,70 persen reptil; 6,30 persen amfibi; 18,60 persen burung; dan 8,90 persen ikan air tawar di dunia.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 4 (empat) dari 25 hotspot keanekaragaman hayati laut di dunia. Luas total kawasan laut Indonesia mencapai 6.4 juta km2, serta terbagi dalam 432 bentang laut fungsional, dengan jumlah pulau kurang lebih 17.504 . Kekayaan keanekaragaman hayati spesies perairan laut mencakup 16persen ikan laut; 38,89 persen Mamalia laut; 56,56 persen Reptil; dan 10,54 persen karang di dunia. Tingginya keanekaragaman hayati perairan ini didukung oleh posisi geografis Indonesia
yang berada di tengah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia, meliputi wilayah laut Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




