Suhu Bumi Bisa Naik 3,1 Derajat Celsius

Kondisi iklim dunia saat ini semakin mengkhawatirkan, dan temuan terbaru dari laporan Emissions Gap yang dirilis oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) baru-baru ini memperlihatkan betapa seriusnya ancaman yang kita hadapi. Berdasarkan laporan tersebut, tanpa adanya komitmen yang lebih kuat dari pemerintah di seluruh dunia, suhu Bumi bisa meningkat hingga 3,1 derajat Celsius pada akhir abad ini atau tahun 2100.
Laporan yang dirilis pada Oktober 2024 ini mengemukakan bahwa bahkan jika seluruh komitmen iklim yang dideklarasikan oleh negara-negara di dunia berhasil dilaksanakan sepenuhnya, suhu Bumi masih akan tetap naik antara 2,6 hingga 2,8 derajat Celsius. Ini berarti bahwa dunia masih akan berada jauh di atas ambang batas peningkatan suhu yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015, yakni 1,5 derajat Celsius.
Tantangan Memenuhi Target Iklim Perjanjian Paris
Perjanjian Paris, yang ditandatangani oleh hampir semua negara pada 2015, bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius dan berupaya membatasi peningkatan hingga 1,5 derajat Celsius. Namun, meskipun tujuan tersebut sudah jelas, realisasinya terbukti sulit dicapai. Salah satu alasan utama adalah lemahnya komitmen dan aksi nyata dari banyak negara. Bahkan dengan upaya terbaik yang dijalankan hingga saat ini, dunia masih berada di jalur yang salah, dengan suhu yang diproyeksikan terus meningkat di luar batas yang disepakati.
Menurut Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, dunia harus lebih ambisius dalam mengatasi perubahan iklim. “Saya mendesak semua negara: jangan lagi berbasa-basi,” ujar Andersen. Dia menekankan pentingnya pembicaraan pada COP29 yang akan diadakan di Baku, Azerbaijan, sebagai momentum untuk meningkatkan aksi nyata demi mencegah krisis iklim lebih lanjut. COP29, yang merupakan Konferensi Para Pihak di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, akan menjadi ajang penting untuk melihat komitmen negara-negara dalam meningkatkan ambisi iklim mereka melalui dokumen yang disebut Nationally Determined Contributions (NDC).
Nationally Determined Contributions (NDC) dan Pentingnya Komitmen Iklim
NDC merupakan dokumen kunci yang menunjukkan keseriusan negara dalam menekan emisi nasionalnya. Berdasarkan Perjanjian Paris, negara-negara diwajibkan untuk memperbarui dan menyerahkan NDC mereka setiap lima tahun sekali. Dalam dokumen ini, masing-masing negara menyatakan komitmen spesifik terkait target pengurangan emisi gas rumah kaca. Penyerahan dokumen NDC berikutnya akan jatuh tempo pada Februari 2025, namun beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, mengindikasikan bahwa mereka akan mengumumkan NDC baru mereka pada COP29 atau segera setelah konferensi tersebut.
UNEP menghitung bahwa untuk mencegah kenaikan suhu Bumi melampaui 1,5 derajat Celsius, negara-negara harus memangkas emisi gas rumah kaca global secara kolektif sebesar 42 persen pada tahun 2030 dan 57 persen pada tahun 2035. Jika target ini tidak tercapai, peluang untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius akan hilang dalam beberapa tahun mendatang.
Energi Terbarukan sebagai Solusi Utama
Laporan UNEP juga menyoroti peran besar energi terbarukan dalam mencapai target pengurangan emisi. Dengan meningkatkan implementasi teknologi energi surya dan angin, dunia dapat mencapai 27 persen dari total potensi pengurangan emisi pada 2030 dan 38 persen pada 2035. Energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin, menawarkan solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi global tanpa menambah emisi karbon.
Pergeseran ke energi terbarukan menjadi salah satu langkah paling signifikan yang dapat diambil negara-negara untuk menekan pemanasan global. Namun, meski solusi ini menjanjikan, tantangannya adalah bagaimana mempercepat transisi energi ini di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Urgensi Tindakan Nyata pada COP29
COP29 mendatang di Baku menjadi momen penting untuk meningkatkan ambisi iklim. Banyak pihak berharap negara-negara akan menggunakan kesempatan ini untuk mengumumkan peningkatan target pengurangan emisi dan memperkuat NDC mereka. Namun, hal ini tidak akan cukup jika komitmen tersebut tidak diikuti dengan aksi nyata. Dunia membutuhkan lebih dari sekadar janji; kita membutuhkan kebijakan yang tegas dan pelaksanaan yang konkret.
Dalam menghadapi tantangan ini, Andersen menekankan bahwa bahkan jika suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius, kita tidak boleh menyerah dalam upaya menciptakan dunia yang berkelanjutan dan tanpa emisi. “Kita harus terus berjuang,” tegasnya. Sebab, meskipun tantangan ini tampak besar, masih ada harapan jika tindakan kolektif dilakukan segera dan secara berkelanjutan.
Penutupan: Menatap Masa Depan yang Lebih Bersih
Laporan Emissions Gap dari UNEP memberi peringatan serius bahwa tindakan kita saat ini akan menentukan masa depan iklim global. Untuk mencegah skenario terburuk, diperlukan komitmen yang lebih kuat dari semua negara, terutama pada COP29 dan proses pembaruan NDC selanjutnya. Dunia perlu bertindak sekarang untuk memastikan bahwa kenaikan suhu global dapat ditekan dan generasi mendatang dapat menikmati planet yang aman dan layak huni.
Energi terbarukan, pengurangan emisi yang drastis, dan kebijakan iklim yang lebih ambisius menjadi kunci dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Satu hal yang pasti, waktu kita semakin terbatas, dan tindakan yang diambil dalam beberapa tahun ke depan akan sangat menentukan arah masa depan Bumi kita.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




