Warga sekitar PLTU Pangkalan Susu derita berbagai penyakit

Dampak Ganda PLTU Pangkalan Susu: 914 Warga Sakit, Ekosistem Langkat Rusak
Yayasan Srikandi Lestari (YSL) merilis temuan mengkhawatirkan dari survei yang dilakukan Juni-Agustus 2025 di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Survei tersebut mengidentifikasi sedikitnya 914 orang terdampak menderita berbagai gangguan kesehatan. Selain itu, temuan ini juga mengungkap kerusakan parah pada sektor pertanian dan kelautan, yang diduga kuat berasal dari polusi dan limbah PLTU.
Korban Kesehatan dan Dugaan Pelanggaran Regulasi
YSL menemukan bahwa sebagian besar korban berada di tiga desa yang mengelilingi PLTU: Pulau Sembilan, Sei Siur, dan Lubuk Kertang.
1. Ragam Penyakit Warga
Gangguan kesehatan yang dialami warga mencakup spektrum yang luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa:
- Penyakit Pernapasan: Termasuk batuk berkepanjangan, batuk berdahak kronis, dan iritasi kronis saluran pernapasan.
- Gangguan Kulit: Gatal-gatal menahun yang sulit disembuhkan meskipun telah mendapat perawatan medis.
- Gejala Akut: Beberapa warga mengalami muntah-muntah.
- Penyakit Kronis Serius: Ditemukan kasus pembengkakan kelenjar beriringan dengan benjolan yang dicurigai sebagai indikasi kanker dan memerlukan operasi. Selain itu, batu ginjal banyak ditemukan pada pekerja tambak yang tinggal berdekatan dengan PLTU.
2. Dugaan Pelanggaran Lingkungan
Sumiati Surbakti, Direktur YSL, menduga bahwa PLTU Pangkalan Susu menggunakan batu bara kualitas sangat buruk (batubara kelas rendah, sekitar 4.200 kkal/kg), yang lebih kotor dan mencemari lingkungan.
- Limbah B3 yang Beracun: YSL menilai kondisi ini bertentangan dengan Permen LHK No. 19/2021 (tentang Pengelolaan limbah non B3), karena Fly Ash and Bottom Ash (FABA) mengandung logam berat dan senyawa beracun seperti merkuri, arsenik, PM2,5, dan timbal yang berbahaya.
- Limbah Cair Panas: Terdapat dugaan pembuangan limbah cair dengan suhu 42 derajat Celsius, yang melanggar Kepmen LH No. 51/2004 dan Permen LH No. 8/2009 (suhu maksimum 40 derajat Celsius).
- Dugaan Tanpa Filter: Diduga kuat PLTU tidak memiliki filter abu terbang (fly ash filter), yang memperburuk pencemaran udara.
Kerusakan Sumber Penghidupan: Pertanian dan Kelautan
Dampak polusi PLTU tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga menggerus sumber ekonomi lokal.
1. Sektor Pertanian
- Gangguan Ekosistem: Ditemukan hama seperti wereng, ulat batang, dan cekek leher pada padi. Hal ini, ditambah dengan hujan asam dan penurunan tanah di lahan yang dulunya tambak, mengindikasikan adanya gangguan pada ekosistem mikro.
- Penurunan Panen: Hasil panen padi menurun drastis, menyebabkan kerugian meski harga gabah naik karena biaya produksi yang jauh lebih tinggi.
2. Sektor Kelautan
- Pencemaran Laut: Polusi, limbah, dan sedimentasi dari PLTU merusak ekosistem laut, yang berdampak langsung pada nelayan kecil.
- Hasil Tangkapan Nihil: Nelayan di Desa Sei Siur hanya mampu mendapat sekitar 3 kg per melaut, sementara di Lubuk Kertang, pendapatan hanya Rp25.000 per tangkapan, jauh di bawah modal operasional.
- Dampak Sosial Ekonomi: Kelangkaan hasil tangkapan menyebabkan nelayan terjerat utang pada tengkulak dan bahkan terpaksa beralih profesi menjadi buruh tani, atau menjadi korban transformasi paksa ekonomi dari kelautan ke pekerja serabutan.
Sumiati menyimpulkan bahwa Negara (pemerintah daerah) dianggap gagal melindungi kelompok rentan ini, diperparah dengan layanan kesehatan yang tidak optimal dan kurangnya perlindungan sosial bagi nelayan.
Respon PLN dan Rekomendasi YSL
Tanggapan PLN
Saat dikonfirmasi, Dedi Khairunas, Manager IPP dan Express Power PT. PLN (Persero) UID Sumatera Utara, enggan berkomentar banyak mengenai temuan YSL. Ia hanya menekankan komitmen pemerintah untuk mengurangi penggunaan batu bara dan fokus pada Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
- Fokus EBT Sumut: Ia mengklaim tidak ada lagi pembangunan listrik berbahan bakar batu bara di Sumut.
- Bauran EBT: Bauran EBT di Sumut mencapai 41,73% pada 2024 (terbesar di Indonesia), dengan proyeksi peningkatan menjadi 43,23% pada Juli 2025.
Gubernur Sumut, Bobby Nasution, juga dilaporkan enggan memberikan tanggapan.
Berdasarkan temuan yang ada, YSL merekomendasikan tiga poin utama:
- Transisi Energi: Mendesak pemerintah untuk beralih dari batu bara ke EBT yang ramah lingkungan.
- Pengawasan Independen: Pembentukan tim pengawas independen (melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, dan akademisi) untuk memantau kepatuhan PLTU.
- Perlindungan Sosial dan Pemulihan: Pemberian perlindungan sosial, pemulihan wilayah kelola rakyat (sektor perikanan), dan pelaksanaan transisi energi yang adil dan berkelanjutan.
sumber:
https://mongabay.co.id/2025/09/04/warga-sekitar-pltu-pangkalan-susu-derita-berbagai-penyakit/
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




