Proyek Food Estate di Merauke: Risiko Lingkungan dan Deforestasi yang Mengkhawatirkan

Proyek Food Estate di Merauke, Papua Selatan, menuai kritik tajam dari berbagai pihak karena dinilai memiliki dampak serius terhadap lingkungan. Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan bahwa proyek ini berisiko meningkatkan emisi karbon dioksida hingga 782,45 juta ton, setara dengan kerugian karbon senilai Rp 47,73 triliun.
Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menjelaskan bahwa risiko ini timbul akibat rencana pembukaan 2 juta hektare hutan untuk proyek tersebut. “Studi menunjukkan bahwa proyek Food Estate di Merauke berkontribusi pada lonjakan emisi karbon global hingga dua kali lipat,” kata Media.
Ia menambahkan, peningkatan emisi karbon Indonesia sebesar 2-3 persen akibat proyek ini dapat memperlambat upaya mencapai target net zero emission pada 2050 hingga lima hingga sepuluh tahun. Selain itu, pelepasan karbon skala besar seperti ini dapat merusak kepercayaan terhadap komitmen Indonesia dalam mencapai batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius, sesuai Perjanjian Paris.
Deforestasi dan Hak Masyarakat Adat Papua
Juru Kampanye Forest Watch Indonesia (FWI), Anggi Prayoga, menyebut proyek ini akan mendorong deforestasi besar-besaran, yang mengakibatkan kerusakan hutan Papua hingga dua kali lipat dalam satu tahun terakhir.
“Segala proyek, termasuk Food Estate, harus mendapatkan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) dari masyarakat adat Papua,” tegas Anggi. Prinsip ini dianggap penting untuk menjamin keberlanjutan sumber daya alam serta menghormati hak-hak masyarakat adat yang sangat bergantung pada hutan.
Alternatif Solusi dari Celios
Celios mengusulkan solusi berbasis ekonomi restoratif untuk menghindari gelombang deforestasi. Ekonomi restoratif adalah pendekatan yang memanfaatkan keanekaragaman hayati tanpa merusak hutan, mendukung ketahanan pangan, dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dalam studi yang dilakukan Celios, solusi ini dapat menekan kontribusi emisi global Indonesia menjadi hanya 1-2 persen, dibandingkan dengan skenario deforestasi besar-besaran. Selain itu, pendekatan ini juga selaras dengan visi pembangunan berkelanjutan dan target iklim Indonesia.
Rekomendasi Penghentian Proyek Food Estate
Melihat potensi dampaknya yang besar terhadap lingkungan, Celios merekomendasikan penghentian kebijakan Food Estate di Merauke. Langkah ini, menurut mereka, lebih sesuai dengan visi keberlanjutan serta upaya global untuk mengurangi emisi karbon.
Proyek Food Estate di Merauke seharusnya menjadi pengingat bagi pembuat kebijakan bahwa pembangunan besar-besaran tanpa memperhatikan dampak lingkungan tidak hanya membahayakan ekosistem, tetapi juga dapat menjadi penghambat serius dalam mencapai tujuan iklim global.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




