Success Story KPBU SPAM Semarang Barat: Kolaborasi Pemerintah dan Badan Usaha untuk Memperkuat Layanan Air Minum Kota Semarang

Materi paparan ini membahas perjalanan Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) SPAM Semarang Barat sebagai salah satu upaya meningkatkan pelayanan air minum di Kota Semarang, khususnya di wilayah Semarang Barat, Ngaliyan, dan Tugu.
Proyek ini memanfaatkan sumber air baku dari Bendungan Jatibarang dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 liter per detik. Target pelayanan diarahkan untuk mencapai sekitar 60.000 sambungan rumah, disertai peningkatan kualitas layanan berupa kontinuitas air 24 jam, kualitas air yang lebih baik, serta tekanan air yang lebih memadai bagi pelanggan.
Perjalanan proyek dimulai sejak 2012. Pada tahap awal, proyek sempat mengalami ketidakpastian akibat perubahan regulasi sumber daya air pada 2015. Skema pendanaan juga sempat diarahkan melalui kombinasi APBN, APBD, dan PDAM. Pada 2017, proyek kembali ditegaskan menggunakan skema KPBU, masuk dalam Proyek Strategis Nasional, dan Direktur Utama PDAM ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama.
Tahap penyiapan proyek melibatkan berbagai pihak, antara lain Bappenas, KPPIP, Kementerian Keuangan, Kementerian PUPR, PT Sarana Multi Infrastruktur, dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia. Dukungan yang diberikan mencakup penyempurnaan studi kelayakan, survei kebutuhan riil, penyusunan Final Business Case, fasilitas penyiapan proyek, dukungan kelayakan, penjaminan proyek, serta pendampingan transaksi.
Salah satu capaian penting proyek adalah proses transaksi KPBU yang berlangsung relatif cepat pada 2018. Tahapan transaksi mulai dari prakualifikasi, penyusunan Request for Proposal, evaluasi penawaran, hingga penandatanganan perjanjian dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10 bulan. Proses tersebut diikuti oleh banyak calon investor dan menghasilkan Konsorsium PT Aetra Air Jakarta dan PT Medco Gas Indonesia sebagai pemenang.
Pemenang lelang menawarkan skema 0 persen Viability Gap Fund serta memberikan diskon tarif sebesar 30 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa proyek dapat mencapai kelayakan tanpa menggunakan dukungan VGF secara langsung.
Skema kerja sama yang digunakan adalah Build–Operate–Transfer atau BOT untuk penyediaan air curah. Lingkup badan usaha mencakup pembangunan dan pengoperasian sistem produksi berkapasitas 1.000 liter per detik, jaringan transmisi sekitar 10,5 kilometer, dan reservoir.
Operasi komersial proyek dimulai pada 22 Mei 2021. Penyerapan air curah dirancang meningkat secara bertahap dari sekitar 248 liter per detik pada 2021 hingga 1.000 liter per detik pada 2030. Pada Juli 2026, realisasi penyerapan telah mencapai sekitar 770 liter per detik.
Dari sisi pelayanan, proyek memberikan peningkatan yang cukup signifikan. Cakupan yang sebelumnya sekitar 26.000 sambungan rumah meningkat menjadi sekitar 46.139 sambungan rumah pada Juli 2026. Kontinuitas pelayanan yang sebelumnya sekitar 12 jam per hari meningkat menjadi 24 jam per hari. Kualitas air juga mengalami peningkatan, disertai tekanan distribusi yang lebih baik sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih andal.
Total biaya investasi proyek, termasuk Interest During Construction, mencapai sekitar Rp1,204 triliun. Struktur pembiayaan berasal dari kombinasi badan usaha, PDAM, Pemerintah Kota Semarang, dan Pemerintah Pusat.
Pembagian pembiayaan ini menunjukkan bahwa skema KPBU memungkinkan pembangunan infrastruktur berskala besar dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah tidak menanggung seluruh biaya, sementara badan usaha juga tidak bekerja sendiri tanpa dukungan kebijakan dan infrastruktur pemerintah.
Dalam pelaksanaannya, proyek menghadapi beberapa tantangan.
Salah satunya adalah perbedaan antara proyeksi kebutuhan air pada tahap studi dengan kondisi permintaan setelah perjanjian berjalan. Selain itu, pembangunan Jaringan Distribusi Utama sempat mengalami keterlambatan akibat refocusing anggaran selama pandemi COVID-19.
Keterlambatan tersebut berdampak pada penyerapan sambungan rumah dan volume air yang dapat digunakan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, PDAM menjalankan program switching atau pengalihan aliran.
Program ini dilakukan dengan memindahkan sebagian pasokan eksisting sehingga kapasitas produksi yang menjadi idle dapat dimanfaatkan untuk memperluas pelayanan ke wilayah di luar area utama KPBU. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan air yang telah diproduksi sekaligus meningkatkan cakupan pelayanan.
Tantangan lain adalah mendorong masyarakat pengguna air bawah tanah agar beralih menggunakan layanan PDAM. Hal ini membutuhkan sosialisasi, edukasi, dan pemasaran langsung kepada masyarakat.
Upaya tersebut penting karena salah satu tujuan strategis proyek adalah mengurangi ketergantungan terhadap pengambilan air bawah tanah yang berlebihan dan mendukung upaya mengurangi dampak penurunan muka tanah di Kota Semarang.
Materi paparan juga menekankan pentingnya penyesuaian tarif secara berkala agar keberlanjutan finansial proyek tetap terjaga. Tarif bukan hanya berkaitan dengan pendapatan PDAM, tetapi juga dengan kemampuan memenuhi kewajiban dalam skema kerja sama jangka panjang.
Selain pembiayaan, salah satu inti dari proyek KPBU adalah pengelolaan risiko.
Risiko yang diperhitungkan mencakup risiko lokasi, desain, konstruksi, pengujian operasi, pembiayaan, operasional, pendapatan, konektivitas jaringan, politik, force majeure, hingga kepemilikan dan transfer aset.
Prinsip yang digunakan adalah bahwa risiko sebaiknya dialokasikan kepada pihak yang paling mampu mengelolanya. Dengan pembagian risiko yang tepat, proyek dapat menghasilkan value for money yang lebih baik bagi pemerintah maupun masyarakat.
Secara keseluruhan, SPAM Semarang Barat menunjukkan bahwa keberhasilan proyek infrastruktur air minum tidak hanya ditentukan oleh pembangunan instalasi pengolahan air.
Keberhasilan juga sangat bergantung pada kesiapan proyek, dukungan regulasi, struktur pembiayaan, kepastian offtaker, pembagian risiko, koordinasi antarlembaga, pembangunan jaringan distribusi, serta kemampuan memperluas pelanggan.
Success Story KPBU SPAM Semarang Barat memperlihatkan bahwa kolaborasi pemerintah dan badan usaha dapat menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pelayanan publik, sepanjang proyek dipersiapkan dengan matang dan setiap pihak memiliki peran serta tanggung jawab yang jelas.
Sumber: Success Story Proyek KPBU SPAM Semarang Barat, Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang, Juli 2026.




