Menanam Kembali Harapan di Lahan Bekas Karhutla: GP Ansor Tanam 1.500 Bibit Pohon di Sumatera Selatan

Setelah api melalap hutan dan meninggalkan lahan yang rusak, pekerjaan berikutnya adalah mengembalikan kehidupan yang pernah tumbuh di dalamnya. Gerakan Pemuda Ansor menanam 1.500 bibit pohon di sejumlah wilayah Sumatera Selatan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem pascakebakaran hutan dan lahan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghilangkan tutupan vegetasi, tetapi juga merusak habitat satwa, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan mengurangi kemampuan lingkungan dalam menjalankan fungsi ekologisnya. Ketika api berhasil dipadamkan, kawasan yang terbakar masih membutuhkan perhatian panjang agar dapat kembali pulih.
Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) melalui penanaman 1.500 bibit pohon secara serentak di sejumlah wilayah di Sumatera Selatan pada 5 November 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Aksi Kemanusiaan Nasional Ansor untuk merespons bencana alam, kebakaran hutan, dan kekeringan di berbagai daerah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Addin Jauharudin, menyampaikan bahwa lahan dan hutan yang terbakar perlu dipulihkan agar kembali produktif bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian alam. ANTARA News+1
Empat Jenis Pohon untuk Mengawali Pemulihan
Swietenia macrophylla, Big-leaf mahogany, Honduran mahogany – 10 Sementes | eBay
Intsia bijuga MERBAU TREE RARE | SUMMER HIBISCUS
Samanea saman Images – Useful Tropical Plants
4
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah jenis pohon dipilih untuk ditanam, yaitu mahoni, merbau, tembesi, dan cengal. Keempat jenis tersebut memiliki karakteristik berbeda dan dapat menjadi bagian dari upaya mengembalikan tutupan vegetasi.
- Mahoni dikenal sebagai pohon berkayu yang dapat tumbuh besar dan membentuk tajuk rindang.
- Merbau merupakan pohon kayu keras dari kawasan tropis yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi.
- Tembesi atau trembesi memiliki tajuk lebar yang dapat memberikan naungan bagi lingkungan sekitarnya.
- Cengal merupakan jenis pohon hutan tropis berkayu keras yang dikenal memiliki nilai penting dalam ekosistem hutan.
Namun, keberhasilan pemulihan tidak cukup ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Jenis pohon harus disesuaikan dengan kondisi tanah, karakteristik ekosistem asli, ketersediaan air, dan kebutuhan habitat setempat.
Pada kawasan bekas kebakaran yang merupakan lahan gambut atau hutan rawa, misalnya, pemilihan jenis tanaman perlu mempertimbangkan kesesuaian ekologis. Penanaman jenis pohon yang tidak sesuai dengan habitat aslinya berisiko menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang rendah dan tidak sepenuhnya mengembalikan fungsi ekosistem.
Aksi Lingkungan yang Terhubung dengan Kebutuhan Masyarakat
Kegiatan GP Ansor tidak hanya berfokus pada penanaman pohon. Dalam rangkaian aksi kemanusiaan tersebut, organisasi ini juga melakukan pembagian sembako kepada masyarakat terdampak, pembersihan sungai, dan distribusi air bersih.
Salah satu kegiatan penanaman dilakukan di Kebun Raya Sriwijaya, Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir. Sementara itu, kegiatan pembersihan sungai dilakukan di anak Sungai Sekanak, Kota Palembang, yang menghadapi persoalan sampah dan pertumbuhan eceng gondok.
GP Ansor bersama BPBD Provinsi Sumatera Selatan juga menyalurkan 2.000 paket sembako dan bantuan air bersih bagi masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan Satuan Banser Tanggap Bencana (Bagana) Sumatera Selatan dan warga setempat. SumselPost+1
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemulihan lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan penanganan kebutuhan masyarakat. Sebab, warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak juga menghadapi konsekuensi langsung dari kebakaran, kekeringan, dan penurunan kualitas lingkungan.
Mengapa Menanam Pohon Saja Tidak Cukup?
Penanaman pohon merupakan langkah awal yang penting, tetapi restorasi hutan membutuhkan proses yang lebih menyeluruh. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ekosistem yang terdiri dari tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, dan hubungan ekologis di antara semuanya.
Pada kawasan yang mengalami kebakaran, pemulihan idealnya mencakup beberapa tahapan:
- Identifikasi tingkat kerusakan. Memetakan area terbakar, kondisi tanah, vegetasi yang tersisa, serta potensi regenerasi alami.
- Pemilihan jenis tanaman lokal. Mengutamakan spesies asli yang sesuai dengan karakteristik ekosistem dan kondisi kawasan.
- Pemulihan tata air. Khususnya pada lahan gambut, menjaga kelembapan tanah dan memperbaiki sistem hidrologi agar kawasan tidak mudah terbakar kembali.
- Pemeliharaan bibit. Melakukan penyiraman, pengendalian gulma, perlindungan dari gangguan, dan penyulaman terhadap bibit yang mati.
- Pemantauan jangka panjang. Mengukur tingkat kelangsungan hidup tanaman, pertumbuhan vegetasi, dan pemulihan habitat satwa.
Dengan demikian, keberhasilan kegiatan restorasi tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak bibit yang masuk ke tanah, tetapi juga berapa banyak yang mampu bertahan dan tumbuh hingga membentuk kembali ekosistem hutan.
Masyarakat Harus Menjadi Penjaga Hutan yang Dipulihkan
Pemulihan kawasan pascakebakaran akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat sekitar dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan. Mereka dapat berperan dalam penanaman, pemantauan pertumbuhan pohon, patroli pencegahan kebakaran, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak kawasan.
Keterlibatan masyarakat juga perlu memberikan manfaat nyata, misalnya melalui pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, pembibitan tanaman lokal, dan kegiatan ekonomi yang tidak mendorong pembukaan hutan.
Hal ini penting karena kawasan yang telah ditanami kembali tetap berisiko mengalami kerusakan apabila tidak disertai perlindungan dan pengawasan. Pencegahan kebakaran harus menjadi bagian dari program pemulihan, bukan kegiatan yang berdiri sendiri.
Dari 1.500 Bibit Menuju Gerakan Pemulihan yang Berkelanjutan
Penanaman 1.500 bibit pohon oleh GP Ansor di Sumatera Selatan menjadi contoh keterlibatan organisasi masyarakat dalam merespons kerusakan lingkungan akibat karhutla. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah bibit ditanam.
Dibutuhkan komitmen untuk merawat tanaman, memastikan kesesuaian jenis pohon dengan kondisi kawasan, melibatkan masyarakat, serta mencegah kebakaran berulang. Pemerintah, organisasi sosial, dunia usaha, akademisi, dan komunitas lokal perlu membangun kerja sama agar pemulihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Satu pohon yang tumbuh dan bertahan dapat menjadi awal kembalinya kehidupan. Namun, hutan hanya akan benar-benar pulih ketika pepohonan, tanah, air, satwa, dan masyarakat kembali berada dalam keseimbangan.




