Akselerasi kebijakan pengembangan panas bumi untuk implementasi “beyond electricity”

Akselerasi Panas Bumi Indonesia: Menuju Target NZE 2060 Melalui Konsep “Beyond Electricity”
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), menekankan strategi penting dalam percepatan pengembangan Panas Bumi (Geotermal). Pengembangan ini tidak hanya berfokus pada Pembangkitan Listrik (PLTP), tetapi juga pada implementasi konsep “Beyond Electricity”.
Strategi ini merupakan pilar kunci bagi Indonesia untuk mencapai target ambisius Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Kontribusi Panas Bumi dalam Mitigasi Iklim
Indonesia memiliki potensi Energi Terbarukan (EBT) yang masif, mencapai total 3.687 GW, menjadikan Panas Bumi sebagai sumber daya vital. Dalam upaya mitigasi iklim, sektor energi berkomitmen menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 358 Juta Ton CO$_2$e pada tahun 2030. Kontribusi terbesar dalam penurunan ini berasal dari program EBT dan efisiensi energi.
Proyeksi Pertumbuhan dan Dampak Ekonomi
Rencana pengembangan Panas Bumi menunjukkan prospek ekonomi dan lingkungan yang cerah:
- Target Kapasitas: Melalui RUPTL PLN 2025-2034, target kapasitas total PLTP diproyeksikan mencapai 5,2 GW. Jangka panjang, Geotermal ditargetkan mencapai kapasitas 23 GW untuk mendukung bauran EBT sektor ketenagalistrikan sebesar 70-72% pada tahun 2060.
- Dampak Investasi dan Pekerjaan: Pengembangan ini diperkirakan menarik total potensi investasi sebesar Rp 363,8 Triliun dan menciptakan 42.700 Green Jobs baru.
- Mitigasi Emisi: Sektor ini diproyeksikan berkontribusi signifikan pada mitigasi iklim dengan potensi penurunan emisi CO$_2$ tahunan mencapai 31,1 Juta Ton CO$_2$.
Konsep “Beyond Electricity”: Diversifikasi Pemanfaatan Panas Bumi
Konsep “Beyond Electricity” membuktikan bahwa energi geotermal dapat memberikan manfaat yang meluas di luar produksi listrik, memberikan nilai tambah bagi ekonomi lokal dan nasional:
| Sektor Pemanfaatan | Contoh Implementasi Nyata |
| Ketahanan Pangan | Pengeringan biji kopi ekspor (PLTP Kamojang) dan sterilisasi media tanam. |
| Pemanfaatan Sisa | Pemanfaatan waste brine (air sisa) untuk pengolahan gula aren. |
| Energi Masa Depan | Produksi Hidrogen Hijau (Green Hydrogen Plant) di PLTP Kamojang dan Ulu Belu. |
| Mineral Berharga | Ekstraksi Mineral Ikutan Panas Bumi (seperti Silika dan Lithium) sebagai sumber pendapatan baru yang signifikan. |
Tantangan Utama dalam Transisi Energi
Meskipun potensi besar, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mewujudkan akselerasi ini:
- Kebutuhan Investasi: Transisi energi membutuhkan investasi EBT yang diprediksi mencapai $90 miliar USD hingga tahun 2034.
- Kesiapan Industri: Memastikan kesiapan dan kapabilitas industri dalam negeri dalam mendukung pengembangan geotermal.
- Dukungan Masyarakat: Pentingnya meningkatkan dukungan dan penerimaan dari masyarakat lokal terhadap proyek-proyek pengembangan geotermal.
Dengan potensi yang besar dan strategi yang terintegrasi antara produksi listrik dan pemanfaatan non-listrik, Panas Bumi memainkan peran ganda sebagai mesin ekonomi hijau dan tulang punggung mitigasi iklim Indonesia.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




