Sungai Raksasa RI Berubah Jadi Gurun Pasir, Kalimantan Bak Negeri Arab

Kekeringan di Kalimantan semakin menunjukkan dampaknya. Sejumlah sungai besar mengalami penurunan muka air yang cukup drastis hingga hamparan pasir dan dasar sungai mulai terlihat di berbagai titik.
Pemandangan tersebut membuat sebagian kawasan sungai tampak seperti gurun atau pantai kering, sangat berbeda dari kondisi normal ketika aliran air memenuhi badan sungai.
Kondisi ini terjadi di tengah kemarau panjang dan pengaruh El Niño yang menekan curah hujan di sejumlah wilayah Kalimantan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada perubahan bentang alam, tetapi mulai mengganggu transportasi, distribusi logistik, hingga aktivitas pertambangan.
Hamparan Pasir Muncul di Sungai Besar
Salah satu pemandangan yang paling mencolok terlihat di Sungai Barito.
Di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, penurunan debit air menyebabkan gosong pasir muncul di tengah sungai. Aliran air terlihat terpecah dan sebagian kawasan berubah menjadi hamparan pasir luas.
Di Muara Teweh, muka air Sungai Barito bahkan dilaporkan turun hingga sekitar 0,6 meter, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang dapat mencapai sekitar 5 hingga 11,5 meter.
Meski demikian, pemerintah menegaskan Sungai Barito tidak sepenuhnya kering. Alur utama masih memiliki air dan di sejumlah titik tetap dapat dilalui kapal serta perahu, meskipun kemampuan navigasinya jauh lebih terbatas dibandingkan kondisi normal.
Transportasi Sungai Mulai Terganggu
Bagi masyarakat Kalimantan, sungai bukan sekadar bentang alam.
Sungai merupakan jalur transportasi penting yang menghubungkan berbagai wilayah, terutama daerah yang tidak seluruhnya memiliki akses darat yang memadai.
Ketika muka air turun, kapal berukuran besar dan tongkang tidak lagi dapat membawa muatan secara maksimal.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia menyebut penurunan muka air di sejumlah sungai Kalimantan mulai memengaruhi aktivitas pengangkutan batu bara. Kedalaman sungai yang berkurang membatasi draft kapal tongkang sehingga kapasitas muatan harus dikurangi.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi menyebabkan penumpukan sementara stok batu bara di area tambang maupun stockpile pelabuhan karena distribusi melalui sungai menjadi lebih lambat.
Namun bagi masyarakat, dampaknya jauh lebih luas daripada persoalan batu bara.
Transportasi bahan pangan, bahan bakar, hasil perkebunan, hingga kebutuhan sehari-hari juga dapat terganggu ketika jalur sungai semakin dangkal.
Kemarau Ekstrem Jadi Pemicu Utama
BMKG menjelaskan penurunan debit Sungai Barito berkaitan dengan musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.
Curah hujan di Kalimantan Tengah menurun sehingga pasokan air dari wilayah hulu, termasuk kawasan Pegunungan Schwaner, ikut berkurang secara signifikan.
Hujan ringan yang sesekali turun juga belum cukup untuk mengembalikan debit sungai.
Fenomena serupa terjadi di beberapa sungai lain di Kalimantan, menunjukkan bahwa tekanan kekeringan tahun ini tidak hanya terjadi pada satu kawasan.
Krisis Air Mulai Dirasakan Warga
Dampak kemarau juga mulai terlihat pada ketersediaan air bersih.
Di sejumlah wilayah Barito Selatan, sumber air yang selama ini digunakan masyarakat dilaporkan mengalami penyusutan bahkan kekeringan.
Warga di beberapa desa harus mencari sumber air alternatif karena sungai kecil dan sumur yang biasanya menjadi tumpuan tidak lagi menghasilkan air dalam jumlah mencukupi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekeringan sungai besar tidak dapat dipandang hanya sebagai fenomena visual.
Ketika sistem sungai kehilangan debit, dampaknya dapat menjalar ke kebutuhan rumah tangga, pertanian, perikanan, transportasi, dan ekonomi lokal.
Hutan Hulu Juga Penting untuk Ketahanan Air
Kemarau panjang menjadi pemicu langsung menurunnya debit sungai tahun ini.
Namun ketahanan sebuah daerah aliran sungai juga sangat dipengaruhi oleh kondisi kawasan hulunya.
Hutan membantu air hujan meresap ke dalam tanah dan menyimpannya untuk kemudian dilepaskan secara perlahan menuju sungai.
Ketika tutupan hutan berkurang, air hujan cenderung lebih cepat menjadi limpasan permukaan.
Akibatnya, saat musim hujan risiko banjir dapat meningkat, sementara ketika kemarau datang cadangan air yang dapat mempertahankan aliran sungai menjadi lebih terbatas.
Karena itu, persoalan kekeringan seharusnya tidak hanya dijawab dengan menunggu musim hujan kembali.
Perlindungan kawasan hulu, rehabilitasi daerah aliran sungai, serta pengendalian perubahan tutupan lahan juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan air dalam jangka panjang.
Sungai yang Menyusut adalah Peringatan
Pemandangan sungai besar Kalimantan yang berubah menjadi hamparan pasir memberikan gambaran nyata tentang betapa rentannya sistem air terhadap cuaca ekstrem.
Sungai yang selama ini terlihat begitu besar pun dapat kehilangan sebagian besar debitnya ketika hujan tidak turun dalam waktu panjang.
Fenomena ini seharusnya menjadi pengingat bahwa air bukan sumber daya yang dapat dianggap selalu tersedia.
Ketahanan sungai sangat bergantung pada keseimbangan antara iklim, hutan, tanah, rawa, dan seluruh daerah aliran yang memasok air ke dalamnya.
Jika kemarau semakin ekstrem sementara kawasan tangkapan air terus mengalami tekanan, kondisi seperti yang terlihat hari ini berpotensi semakin sering terjadi.
Kalimantan dikenal sebagai pulau dengan sungai-sungai raksasa. Namun ketika sungai sebesar Barito mulai memperlihatkan dasar dan hamparan pasirnya, kita seharusnya melihatnya bukan sekadar sebagai pemandangan langka, melainkan sebagai peringatan tentang masa depan air di Kalimantan.




