Berita

Transisi energi perlu dipercepat, panas bumi potensial jadi andalan

Akselerasi Transisi Energi: Memaksimalkan Potensi Panas Bumi sebagai Benteng Ketahanan Nasional

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, percepatan transisi menuju energi bersih menjadi agenda krusial bagi Indonesia. Langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga untuk mengamankan ketahanan dan kemandirian energi nasional dalam jangka panjang.

Pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Retno Gumilang Dewi, menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal strategis yang sangat besar untuk memimpin transisi ini, terutama melalui pemanfaatan energi panas bumi (geothermal).

Mengapa Energi Panas Bumi Menjadi “Andalan Utama”?

Berbeda dengan beberapa jenis Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya, panas bumi memiliki karakteristik unik yang membuatnya unggul sebagai pemikul beban listrik utama (baseload):

  • Pasokan Listrik Stabil: Panas bumi tidak bersifat intermiten (terputus-putus) karena mampu menghasilkan listrik secara kontinu 24 jam penuh, tanpa bergantung pada perubahan cuaca atau waktu seperti energi surya dan angin.
  • Modal Kemandirian Bangsa: Di saat negara-negara global berebut mengamankan pasokan energi akibat disrupsi geopolitik, kekayaan panas bumi domestik yang melimpah menjadi pelindung Indonesia dari fluktuasi harga komoditas energi dunia.
  • Peran Strategis BUMN: Peran korporasi seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) sangat vital. Pengalaman panjang PGEO dalam eksplorasi dan pengembangan proyek geothermal di Indonesia menempatkan perusahaan ini sebagai motor utama strategi kemandirian energi nasional.

Tantangan Transisi: Mengapa Tidak Bisa Instan?

Meski potensi hijau sangat masif, transisi energi harus dilakukan secara bertahap demi menghindari guncangan ekonomi dan sosial. Energi fosil saat ini masih menjadi penopang utama jaringan energi nasional.

Secara khusus, tantangan terbesar transisi energi berada pada dua sektor berikut:

1. Sektor Transportasi Masal dan Angkutan Berat

Peralihan dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke listrik pada kendaraan pribadi jauh lebih mudah dibandingkan pada sektor transportasi masal dan kendaraan logistik berat. Hambatan utamanya meliputi:

  • Beban operasional yang tinggi.
  • Efisiensi energi yang belum optimal untuk muatan berat.
  • Belum siapnya infrastruktur ekosistem pengisian daya skala besar.

Solusi Jembatan: Sebelum ekosistem listrik untuk angkutan berat matang, pemerintah perlu mengoptimalkan pemanfaatan bahan bakar transisi seperti gas dan biofuel secara berdampingan.

2. Keseimbangan Pertumbuhan Ekonomi dan Emisi

Pemerintah wajib menjaga pasokan energi tetap andal seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi akibat pertumbuhan ekonomi. Target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 harus memiliki tahapan implementasi yang realistis agar tidak mengorbankan stabilitas ekonomi masyarakat.

Panas bumi bukan sekadar komoditas bisnis energi, melainkan bagian dari pertahanan strategis Indonesia di masa depan. Melalui peta jalan yang realistis, penguatan investasi di sektor hulu panas bumi, serta pemanfaatan energi transisi di sektor transportasi, Indonesia dapat mencapai target penurunan emisi tanpa mengorbankan keandalan pasokan energi nasional.

sumber:
https://hijau.bisnis.com/read/20260605/652/1978802/transisi-energi-perlu-dipercepat-panas-bumi-potensial-jadi-andalan#goog_rewarded

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO