Zulkifli Hasan: Atasi Sampah Tak Cukup Andalkan Waste to Energy, Masyarakat Harus Mulai Pilah Sampah dari Rumah

Pemerintah menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah nasional tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE). Keberhasilan reformasi pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat menghadiri Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
Menurut Zulkifli, pemerintah saat ini tengah melakukan reformasi besar dalam sistem pengelolaan sampah melalui pembangunan berbagai fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Namun, teknologi saja tidak akan mampu menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh.
“Pemerintah sedang melakukan reformasi besar dalam pengelolaan sampah melalui pembangunan fasilitas waste to energy. Namun itu saja tidak cukup. Reformasi ini harus berjalan paralel dengan gerakan masyarakat memilah sampah dari rumah,” ujar Zulkifli Hasan.
Pemilahan Sampah Jadi Kunci
Zulkifli menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah sejak dari sumber akan membuat proses pengelolaan menjadi lebih efektif.
Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau kompos, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Pemerintah Targetkan Persoalan Sampah Terkelola pada 2029
Pemerintah menargetkan sebagian besar persoalan sampah nasional dapat ditangani pada 2029 melalui kombinasi berbagai strategi, antara lain:
- Percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
- Penguatan sistem pengelolaan sampah di kawasan permukiman.
- Gerakan nasional pemilahan sampah dari rumah tangga.
- Peningkatan daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah.
Zulkifli optimistis sekitar 80 persen persoalan sampah dapat diselesaikan apabila pemerintah dan masyarakat bergerak bersama.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Jika pemerintah membangun teknologinya dan masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan produktif,” katanya.
PSEL Dipercepat di Berbagai Daerah
Sebagai bagian dari reformasi tersebut, pemerintah akan segera memulai pembangunan tiga fasilitas PSEL melalui proses groundbreaking dalam waktu dekat.
Selain itu, 12 proyek PSEL lainnya saat ini tengah diproses oleh Danantara untuk memasuki tahap pemilihan mitra, dengan target seluruh fasilitas dapat mulai beroperasi pada 2028.
Pembangunan PSEL diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sistem pembuangan terbuka (open dumping) sekaligus menghasilkan energi listrik dari sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan.
Jakarta Jadi Prioritas Penanganan Sampah
Sebelumnya, pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat pembangunan fasilitas waste to energy di ibu kota.
Menurut Zulkifli, persoalan sampah Jakarta menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto karena volume sampah yang sangat besar dan kapasitas tempat pengolahan yang semakin terbatas.
Saat ini, Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, dengan sekitar 87 persen masih bergantung pada sistem open dumping, terutama di TPST Bantar Gebang yang kapasitasnya telah melampaui batas.
“Kalau dilihat, ketinggian timbunan di Bantar Gebang itu sudah seperti gedung belasan lantai,” ungkapnya.
Sampah Diubah Menjadi Energi
Melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas PSEL di sejumlah daerah.
Untuk wilayah Jakarta, dua lokasi yang diusulkan sebagai pusat pengolahan sampah menjadi listrik berada di:
- TPST Bantar Gebang.
- Kamal Muara.
Zulkifli mengatakan kerja sama dengan Danantara menjadi simbol komitmen pemerintah untuk mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar tanda tangan, tetapi kontrak dengan jutaan warga Jakarta. Sampah yang menumpuk dan berbau itu akan diubah menjadi listrik yang bermanfaat,” ujarnya.
Dengan pembangunan infrastruktur pengolahan sampah yang lebih modern serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah, pemerintah berharap sistem pengelolaan sampah nasional dapat menjadi lebih efektif, berkelanjutan, dan mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/7894656/atasi-masalah-sampah-tak-cukup-andalkan-waste-to-energy
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




