Berita

34 Kelompok Tani Hutan Percepat Rehabilitasi Mangrove Delta Mahakam, Pulihkan Ribuan Hektare Ekosistem Pesisir

Kutai Kartanegara – Kementerian Kehutanan terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di Kalimantan Timur dengan melibatkan 34 Kelompok Tani Hutan (KTH) melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Program ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memulihkan kawasan mangrove di Delta Mahakam sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim.

Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager M4CR Kalimantan Timur, Asman Azis, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan sejak 2024.

“Kami melibatkan 34 Kelompok Tani Hutan dalam implementasi program ini di Kalimantan Timur. Partisipasi masyarakat sangat penting karena merekalah yang akan merasakan langsung manfaat dari ekosistem mangrove yang sehat,” ujar Asman.

Ribuan Hektare Mangrove Berhasil Direhabilitasi

Sejak dimulai pada 2024, program M4CR telah berhasil merehabilitasi sekitar 6.120 hektare kawasan mangrove di Kalimantan Timur. Pada tahun 2026, luas rehabilitasi ditargetkan meningkat menjadi 6.486 hektare.

Pada tahap awal, kegiatan difokuskan di wilayah Kecamatan Anggana, Muara Badak, dan Muara Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara. Selanjutnya, cakupan program diperluas hingga Kabupaten Berau, Kutai Timur, Paser, serta kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perluasan wilayah rehabilitasi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekosistem pesisir sekaligus memperkuat perlindungan terhadap kawasan yang rentan mengalami abrasi dan degradasi lingkungan.

Mangrove Berperan Penting bagi Kehidupan Masyarakat Pesisir

Asman menjelaskan bahwa manfaat rehabilitasi mangrove tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pesisir.

Keberadaan hutan mangrove mampu melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, meningkatkan produktivitas sektor perikanan, menyerap karbon dalam jumlah besar, serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya pesisir.

“Manfaat rehabilitasi ini akan langsung dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan mangrove. Karena itu, keterlibatan mereka menjadi faktor yang sangat krusial,” katanya.

Kelompok Tani Hutan Jadi Penggerak Konservasi

Di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, yang berada di kawasan Delta Mahakam, terdapat 14 Kelompok Tani Hutan yang aktif melakukan penanaman dan pemeliharaan mangrove sejak 2024.

Salah satunya adalah KTH Mangrove Borneo. Ketua kelompok tersebut, Andi Firmansyah, mengatakan program M4CR memberikan dukungan yang sangat berarti bagi masyarakat yang selama ini telah melakukan rehabilitasi mangrove secara mandiri.

Menurutnya, sebagian besar warga Desa Sepatin berprofesi sebagai petambak udang dan nelayan sehingga keberadaan mangrove memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan mata pencaharian mereka.

“Sebelumnya kami sudah melakukan rehabilitasi secara mandiri dengan menanam mangrove jenis Rhizophora di area tambak. Dengan dukungan M4CR, kegiatan rehabilitasi menjadi lebih terarah, terencana, dan berlangsung lebih cepat,” ujar Andi.

Saat ini, KTH Mangrove Borneo yang beranggotakan 15 orang telah berhasil menanam sekitar 64.000 bibit mangrove di lahan seluas 70 hektare. Pada 2026, kelompok ini menargetkan rehabilitasi kawasan bekas tambak seluas 199 hektare.

Puluhan Ribu Hektare Mangrove Masih Membutuhkan Rehabilitasi

Pelaksana Tugas Kepala Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau, Indri Hendraswari, menjelaskan bahwa Kalimantan Timur memiliki kawasan mangrove seluas sekitar 240.929 hektare yang tersebar di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Kota Balikpapan, dan Kota Bontang.

Dari total tersebut, sekitar 193.380 hektare berada dalam kondisi tutupan lebat, 33.985 hektare berkategori sedang, dan 13.563 hektare memiliki tutupan yang sangat jarang.

Meski demikian, masih terdapat sekitar 58.116 hektare kawasan mangrove yang mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, terutama menjadi tambak, sehingga memerlukan rehabilitasi secara bertahap.

Kolaborasi untuk Ketahanan Pesisir

Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang didukung oleh Bank Dunia mendapat respons positif dari masyarakat pesisir. Tingginya partisipasi kelompok tani hutan menunjukkan bahwa pelestarian mangrove akan lebih efektif apabila dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan.

Melalui rehabilitasi yang berkelanjutan, Kalimantan Timur diharapkan mampu memulihkan kawasan mangrove yang rusak, memperkuat perlindungan wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada ekosistem mangrove sebagai sumber kehidupan.

https://www.antaranews.com/berita/5675861/kemenhut-libatkan-34-kth-merehabilitasi-mangrove-delta-mahakam

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO