Hutan Kelekak Terancam Tambang dan Sawit, BRIN Dorong Perda untuk Lindungi Warisan Alam Bangka Belitung

PANGKALPINANG – Di tengah masifnya pertambangan timah dan ekspansi perkebunan kelapa sawit, keberadaan hutan Kelekak di Kepulauan Bangka Belitung menghadapi tekanan yang semakin besar. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemerintah daerah memberikan perlindungan hukum melalui peraturan daerah agar warisan ekologis dan budaya masyarakat tersebut tidak perlahan menghilang.
Kelekak bukan sekadar kawasan yang dipenuhi pepohonan. Bagi masyarakat Melayu Bangka Belitung, kawasan ini merupakan kebun buah atau hutan dusun campuran yang diwariskan dan dikelola secara turun-temurun.
Ketua Kelompok Riset Pengelolaan Lanskap Antropogenik Pusat Riset Ekologi BRIN, Dr. Rozza Tri Kwatrina, mengatakan Bangka Belitung memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang penting untuk dilindungi.
Menurutnya, kemampuan kelembagaan lokal saja tidak cukup untuk mempertahankan Kelekak apabila tidak didukung kebijakan daerah, perlindungan tata ruang, serta instrumen hukum yang mengakui nilai sosial dan ekologis kawasan tersebut.
“Kelak Kek Ikak”: Hutan untuk Anak Cucu
Ada filosofi menarik di balik nama Kelekak.
Istilah tersebut berasal dari ungkapan “kelak kek ikak”, yang memiliki makna kurang lebih “nanti untuk kamu” atau untuk anak cucu.
Filosofi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat sejak dahulu telah mengenal konsep keberlanjutan, bahkan sebelum istilah sustainable development populer digunakan.
Alam tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Sebagian sumber daya tetap dipertahankan dan diwariskan agar generasi berikutnya juga memperoleh manfaat.
Karena itu, hilangnya Kelekak bukan hanya berarti kehilangan kawasan hijau, tetapi juga berpotensi menghilangkan pengetahuan ekologis dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Rumah bagi Keanekaragaman Hayati Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung memiliki ekosistem dengan karakteristik yang khas, termasuk hutan Kerangas, berbagai jenis kantong semar, serta sejumlah primata yang dilindungi.
Kelekak menjadi bagian dari lanskap yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat lokal.
Di dalamnya dapat tumbuh berbagai tanaman yang mempunyai manfaat pangan maupun ekonomi. Pada saat bersamaan, vegetasi yang dipertahankan masyarakat turut menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati.
Inilah yang membuat perlindungan Kelekak tidak cukup hanya dipandang sebagai persoalan mempertahankan kebun tradisional.
Kelekak merupakan pertemuan antara alam, budaya, pangan, ekonomi masyarakat, dan pengetahuan lokal.
Tambang Timah dan Sawit Jadi Ancaman
Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung Dr. Iskandar menyoroti ancaman yang dihadapi Kelekak.
Menurutnya, aktivitas pertambangan timah dan perkebunan kelapa sawit telah menjangkau banyak kawasan Kelekak di wilayah perdesaan.
Perubahan fungsi lahan dalam skala besar berpotensi membuat keberadaan hutan tradisional tersebut semakin terdesak.
Jika tidak ada perlindungan yang memadai, kawasan yang telah dipertahankan masyarakat selama beberapa generasi dapat berubah fungsi dan sulit dikembalikan seperti kondisi sebelumnya.
BRIN Dorong Perlindungan melalui Regulasi
BRIN menilai penyelamatan Kelekak membutuhkan tata kelola yang menggabungkan berbagai pendekatan.
Hukum formal perlu berjalan bersama kelembagaan adat. Perlindungan varietas tanaman lokal juga perlu diikuti pemetaan kawasan serta keterlibatan aktif masyarakat.
Regulasi dapat diperkuat melalui peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan desa, maupun instrumen hukum lain yang sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Langkah ini penting agar Kelekak tidak hanya diakui sebagai tradisi, tetapi memperoleh posisi yang lebih jelas dalam perencanaan dan perlindungan tata ruang.
Jangan Sampai “Nanti untuk Kamu” Hanya Tinggal Cerita
Kelekak menyimpan pesan sederhana yang justru sangat relevan dengan persoalan lingkungan saat ini: jangan menghabiskan semuanya hari ini. Sisakan untuk mereka yang hidup setelah kita.
Di tengah besarnya nilai ekonomi timah, perkebunan, dan berbagai bentuk pemanfaatan lahan lainnya, prinsip tersebut semakin penting untuk dipertahankan.
Pembangunan ekonomi memang diperlukan. Namun, ketika seluruh ruang dikonversi berdasarkan keuntungan jangka pendek, generasi mendatang berisiko menerima tanah yang kehilangan sebagian kekayaan ekologis dan budayanya.
Perlindungan Kelekak karena itu bukan semata-mata tentang menyelamatkan pepohonan.
Ini tentang mempertahankan keanekaragaman hayati, sumber pangan lokal, pengetahuan masyarakat, identitas budaya, dan sebuah filosofi tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.
“Kelak kek ikak”—nanti untuk kamu.
Sebuah pesan dari leluhur Bangka Belitung yang mengingatkan bahwa alam yang kita nikmati hari ini sebenarnya bukan hanya milik kita, tetapi juga titipan untuk anak cucu.
https://www.antaranews.com/berita/5703708/brin-pemda-babel-terbitkan-perda-selamatkan-hutan-kelekak




