Melihat Juara Bertahan Polusi Udara Tangerang Selatan, Buruk di Tengah Malam

Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, mencatatkan kualitas udara yang buruk sejak awal Juli, dengan kondisi yang paling parah terjadi pada malam hingga dini hari. Berdasarkan Laporan Kualitas Udara Dunia Tahunan ke-6 dari perusahaan teknologi pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, Tangsel menduduki juara nasional sekaligus ranking 41 kota dengan udara terburuk dunia pada 2023.
Reputasi sebagai juara bertahan ini belum luntur. Menurut data IQAir, Tangerang Selatan hampir selalu memiliki kualitas udara “tak sehat” (Unhealthy) sepanjang Juli.
Dari sepanjang Juli, hanya tiga hari yang mencatatkan kualitas udara “moderat” (Moderate) dan dua hari masuk kategori “tidak sehat untuk kelompok sensitif” (Unhealthy for sensitive groups). Pengecualian ini terjadi berturut-turut pada 5 hingga 9 Juli. Selebihnya, Tangsel selalu memiliki kualitas udara harian di atas 150 AQI US. Kualitas udara terburuk terjadi pada 1 Juli dengan indeks mencapai 190 AQI.
Sebagai informasi, nilai AQI di atas 150 sampai 200 berarti kualitas udara berada dalam tingkatan yang tidak sehat. Sedangkan indeks udara dari 100 sampai 150 berarti tidak sehat untuk sejumlah kelompok sensitif. Kualitas udara yang baik memiliki nilai 0 hingga 50 AQI.
Lonjakan Kualitas Udara Buruk pada Malam Hari
Kualitas udara yang buruk ini terjadi sepanjang hari dan bahkan melonjak pada malam hingga dini hari jauh di atas indeks rata-ratanya. Data kualitas udara pada Selasa (30/7) malam menunjukkan lonjakan signifikan setelah pukul 21.00 WIB, mencapai lebih dari 200 AQI. Puncak penurunan kualitas udara terjadi pada tengah malam, mencapai 270 AQI. Setelah itu, kualitas udara berangsur membaik meski tetap berada pada kategori tidak sehat.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fachri Rajab mengungkap alasan tingkat polusi lebih tinggi saat malam hingga menjelang pagi karena adanya lapisan inversi.
“Kalau kita lihat siklus harian, PM2.5 memang konsentrasinya cenderung lebih tinggi pada malam hari. Itu relatif lebih tinggi hingga menjelang pagi. Kemudian di pagi hari seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, PM2.5 juga meningkat,” ujar Fachri di Jakarta pada Agustus 2023.
“Polutan atau partikel penyebab polusi, kenapa tinggi malam hari karena ada lapisan inversi (pembalik). Di lapisan ini berkumpul, pada malam hari ketebalan lapisan inversi mengecil sehingga konsentrasi akan makin tinggi,” tambahnya.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




