Berita

Bappenas: Masyarakat KTI hadapi perubahan iklim dengan kearifan lokal

Masyarakat di Kawasan Timur Indonesia (KTI) tidak hanya menjadi korban pasif dari dampak perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang gigih beradaptasi dengan mengandalkan kearifan lokal yang dimiliki. Temuan penting ini mengemuka dalam kegiatan Knowledge and Innovation Exchange (KIE) program KONEKSI yang berlangsung di Makassar pada 19-20 Agustus.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, dalam paparannya menegaskan bahwa resilensi atau ketahanan masyarakat KTI menghadapi gempuran krisis iklim patut dijadikan contoh. Kesimpulan ini bukanlah wacana, melainkan hasil dari 38 penelitian mendalam yang tergabung dalam KONEKSI, sebuah program penelitian kolaboratif antara Indonesia dan Australia.

“Yang terjadi di lapangan, masyarakat di bawah itu melakukan mitigasi secara kearifan lokal untuk siap menghadapi perubahan iklim,” ujar Pungkas, seperti dikutip Antara, Rabu (20/8).

Belajar dari yang Terdampak Langsung

Melalui serangkaian penelitian tersebut, terungkap bahwa strategi adaptasi yang dibangun komunitas lokal, khususnya kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas, telah teruji dari tahun ke tahun. Mereka mengembangkan sistem pengetahuan sendiri untuk membaca perubahan alam dan meresponsnya.

“Dari sini, kita bisa memprediksi dan menyiapkan kebijakan yang sesuai, termasuk untuk melindungi kelompok rentan anak-anak dan terutama masyarakat yang jauh dari perkotaan,” jelas Pungkas.

Ia menambahkan, meski istilah ‘krisis iklim’ mungkin bukan bahasa yang sehari-hari mereka gunakan, dampaknya telah mereka rasakan secara nyata. Pola musim yang tidak lagi bisa diprediksi menjadi bukti konkret. “Misal dulunya April sampai Oktober musim kering, tetapi sekarang tidak lagi. Mereka yang ada di pantai juga banyak mengalami abrasi, daerah pegunungan banyak penyakit malaria. Semua sektor terdampak,” ucapnya.

Dari Lokal ke Nasional: Kearifan Lokal Sebagai Fondasi Kebijakan

Pungkas menekankan bahwa peran pemerintah selanjutnya adalah mempelajari, mendokumentasikan, dan mencontoh apa yang telah dilakukan masyarakat. Pengetahuan lokal ini akan menjadi titik awal (entry point) yang sangat berharga untuk merevisi dan memperbaiki kebijakan pembangunan ke depan agar lebih relevan, inklusif, dan berbasis bukti.

Ke-38 riset tersebut dilakukan bekerja sama dengan berbagai universitas dan lembaga penelitian dengan cakupan lokasi yang beragam, sehingga memberikan gambaran utuh dan kaya akan realitas di lapangan.

Dukungan Australia: Kemitraan untuk Masa Depan

Dukungan dari pemerintah Australia melalui program KONEKSI ini menegaskan komitmen bilateral kedua negara dalam menghadapi tantangan global. Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar, Todd Dias, menyatakan bahwa kemitraan penelitian seperti ini sangat penting untuk masa depan hubungan kedua negara.

“Sekarang, hasil penelitian mereka seharusnya dapat membantu masyarakat lokal untuk mengatasi atau menghadapi semua tantangan, khususnya yang terkait dengan perubahan iklim,” kata Dias.

Ia berharap pertukaran pengetahuan ini menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, baik dalam bentuk ide, inovasi, teknologi, maupun sistem perbaikan kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan Indonesia, khususnya di wilayah Timur, dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

Kegiatan KIE KONEKSI ini menjadi platform strategis bagi para peneliti, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mentransformasikan temuan akademis menjadi aksi nyata yang membumi.

Sumber Artikel:
https://www.antaranews.com/berita/5050365/bappenas-masyarakat-kti-hadapi-perubahan-iklim-dengan-kearifan-lokal

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO