Karhutla Ancam Orangutan dan Satwa Liar, BOSF Dorong Perlindungan Habitat Diperkuat

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya membawa ancaman bagi manusia.
Satwa liar yang hidup di kawasan hutan juga menghadapi risiko besar ketika api dan asap menyebar ke habitat mereka.
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mendorong agar perlindungan habitat orangutan dan satwa liar lainnya diperkuat di tengah ancaman karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Menurut Jamartin, kondisi orangutan yang terdampak asap dapat menjadi gambaran mengenai risiko lebih luas yang mungkin dialami berbagai satwa lain di dalam hutan.
“Kalau orangutan terdampak, bayangkan satwa liar lain di hutan yang juga terdampak.”
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 10 September 2026.
Orangutan Mengalami Gangguan Pernapasan akibat Asap
Dampak karhutla terhadap orangutan tidak selalu terlihat dalam bentuk luka akibat api.
Paparan asap juga menjadi ancaman serius.
Di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOSF memberikan tambahan asupan makanan dan melakukan penanganan kesehatan setelah 21 individu orangutan menunjukkan gejala gangguan pernapasan yang konsisten dengan ISPA di tengah kabut asap karhutla.
Beberapa orangutan bahkan membutuhkan bantuan seperti nebulizer untuk membantu penanganan gangguan pernapasan.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Presiden juga melihat secara langsung kondisi orangutan yang sedang menjalani perawatan.
Karhutla Bukan Hanya Membakar Hutan
Bagi satwa liar, karhutla memiliki dampak yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kehilangan pepohonan.
Ketika hutan terbakar, sumber makanan dapat hilang dalam waktu singkat.
Pohon buah, daun, bunga, kulit kayu, serta vegetasi lain yang menjadi sumber pakan orangutan dapat rusak atau musnah.
Orangutan juga dapat kehilangan sebagian wilayah jelajahnya.
Jika kebakaran terjadi pada kawasan yang habitatnya sudah terfragmentasi, kemampuan satwa untuk mencari tempat aman menjadi semakin terbatas.
Habitat yang Terfragmentasi Memperbesar Risiko
Tekanan terhadap orangutan tidak hanya datang dari kebakaran.
Perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi hutan juga mengurangi konektivitas antarhabitat.
Ketika kawasan hutan terpecah menjadi blok-blok kecil, orangutan memiliki ruang yang lebih sempit untuk berpindah mencari makanan dan menghindari ancaman.
Karhutla kemudian menambah tekanan terhadap kondisi tersebut.
BOS menyebut bahwa setiap kebakaran di hutan Kalimantan dapat berarti hilangnya rumah sekaligus sumber makanan bagi orangutan liar. Di kawasan Mawas, Kalimantan Tengah, misalnya, lebih dari 43 hektare hutan rawa gambut dalam lanskap konservasi BOS dilaporkan terbakar atau terdampak pada Agustus 2026.
Perlindungan Habitat Menjadi Kunci
Menurut Jamartin, perhatian terhadap orangutan perlu diikuti dengan upaya menjaga kawasan hutan yang masih menjadi habitat satwa.
Ia mendorong agar kawasan berhutan yang memiliki fungsi penting bagi satwa tetap mendapat perlindungan, termasuk kawasan yang secara tata ruang masih memungkinkan untuk dialihfungsikan tetapi terbukti memiliki nilai penting sebagai habitat.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa konservasi satwa tidak cukup hanya dilakukan melalui penyelamatan individu.
Melindungi habitat merupakan bagian yang sama pentingnya.
Menyelamatkan Satwa Tanpa Menjaga Rumahnya Tidak Cukup
Ketika orangutan terdampak kebakaran, tim konservasi dapat melakukan evakuasi dan rehabilitasi.
Namun setelah kondisi satwa membaik, mereka tetap membutuhkan hutan untuk kembali hidup secara alami.
Tanpa habitat yang cukup luas dan terhubung, upaya rehabilitasi menghadapi tantangan besar.
Karena itu, penyelamatan satwa dan perlindungan habitat seharusnya berjalan bersamaan.
Menyelamatkan orangutan tanpa menjaga hutannya berarti hanya menyelesaikan sebagian persoalan.
Kementerian Kehutanan Berikan Dukungan Peralatan
BOSF juga menyampaikan bahwa mereka telah menerima dukungan dari Kementerian Kehutanan berupa nebulizer, oksigen, serta peralatan pemadam kebakaran untuk membantu menghadapi dampak karhutla.
Kementerian Kehutanan juga memperkuat jalur pelaporan untuk penyelamatan satwa liar melalui call center agar masyarakat dapat segera melaporkan orangutan atau satwa lain yang ditemukan terdampak kebakaran.
Sistem pelaporan cepat penting karena satwa yang terdampak asap atau kehilangan habitat dapat memasuki kebun maupun permukiman masyarakat.
Orangutan Dapat Menjadi Indikator Kondisi Ekosistem
Orangutan merupakan salah satu satwa yang sangat bergantung pada keberadaan hutan.
Karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan dan kebutuhan pakannya sangat bergantung pada keanekaragaman vegetasi, perubahan kondisi hutan dapat langsung memengaruhi kehidupannya.
Karena itu, ketika orangutan mengalami tekanan akibat kebakaran, kondisi tersebut juga dapat menunjukkan adanya gangguan lebih luas terhadap ekosistem.
Burung, primata lain, reptil, mamalia kecil, serangga, dan berbagai organisme lain juga menghadapi ancaman yang sama.
Asap Juga Menjadi Ancaman yang Tidak Terlihat
Api mudah terlihat.
Asap jauh lebih sulit dihindari.
Partikel halus yang dihasilkan dari kebakaran dapat menyebar jauh dari sumber api.
Satwa di kawasan yang tidak terbakar secara langsung pun dapat mengalami paparan.
Kasus orangutan yang membutuhkan perawatan pernapasan menunjukkan bahwa penanganan karhutla perlu memperhitungkan dampak kesehatan terhadap satwa, bukan hanya luas kawasan yang terbakar.
Konflik Manusia dan Satwa Bisa Meningkat
Ketika habitat dan sumber makanan berkurang, satwa dapat keluar dari kawasan hutan untuk mencari tempat aman.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan perjumpaan dengan manusia.
Orangutan dapat memasuki perkebunan atau area pertanian karena sumber pakan alaminya berkurang.
Situasi seperti ini dapat meningkatkan risiko konflik manusia dan satwa.
Karena itu, perlindungan habitat juga merupakan bagian penting dari upaya mencegah konflik.
Pencegahan Karhutla Lebih Penting daripada Evakuasi
Penyelamatan satwa ketika kebakaran sudah terjadi tentu sangat penting.
Namun strategi yang lebih efektif adalah mencegah kebakaran sebelum meluas.
Pengawasan titik panas, patroli kawasan, pengelolaan gambut, pencegahan pembakaran lahan, serta respons cepat terhadap api menjadi bagian penting dalam perlindungan ekosistem.
Jika kebakaran dapat dihentikan sejak awal, kebutuhan evakuasi satwa juga dapat dikurangi.
Konservasi Harus Melihat Lanskap secara Utuh
Perlindungan orangutan tidak dapat hanya dilakukan pada lokasi rehabilitasi atau kawasan konservasi tertentu.
Satwa membutuhkan lanskap yang cukup luas dan saling terhubung.
Karena itu, perencanaan penggunaan lahan perlu mempertimbangkan koridor satwa, kawasan bernilai konservasi tinggi, sumber air, area pakan, serta konektivitas hutan.
Pendekatan ini penting terutama di Kalimantan, tempat habitat orangutan dapat berbatasan dengan perkebunan, pertambangan, kawasan produksi, dan permukiman.
Karhutla Menunjukkan Hubungan Manusia dan Ekosistem
Kebakaran hutan sering dibahas dari sisi kerugian ekonomi, polusi udara, kesehatan manusia, dan kehilangan tutupan hutan.
Namun dampaknya terhadap satwa menunjukkan bahwa persoalan ini juga menyangkut keberlangsungan sebuah ekosistem.
Ketika hutan terbakar, bukan hanya pohon yang hilang.
Habitat hilang.
Sumber makanan hilang.
Ruang hidup menyempit.
Dan spesies yang bergantung pada hutan harus berjuang untuk bertahan.
Menyelamatkan Orangutan Berarti Menjaga Hutannya
Kunjungan ke pusat rehabilitasi dapat membantu memperlihatkan secara langsung dampak karhutla terhadap satwa.
Namun tantangan yang lebih besar berada di luar pusat rehabilitasi: menjaga agar habitat alami tetap tersedia dan aman.
Perlindungan orangutan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang penyelamatan individu yang sakit atau terluka.
Ia juga tentang menjaga hutan agar satwa tidak terus-menerus membutuhkan penyelamatan.
Karena dalam konservasi, melindungi satwa berarti sekaligus melindungi rumahnya.




