Setiap Hari Menghirup Asap: Pneumonia di Kotawaringin Barat Naik 9,9 Persen di Tengah Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti menjadi bencana ketika api berhasil dijauhkan dari permukiman. Di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, masyarakat telah menjalani hari demi hari dengan udara yang dipenuhi asap karhutla, sementara data kesehatan mulai menunjukkan perkembangan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Hingga minggu epidemiologi ke-41 tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat 5.044 laporan infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dalam periode minggu ke-28 hingga ke-41. Pada periode yang sama terdapat 956 laporan pneumonia dan 76 laporan influenza-like illness. Yang menjadi perhatian khusus adalah pneumonia: dalam satu minggu jumlah laporannya meningkat dari 81 kasus pada minggu epidemiologi ke-40 menjadi 89 kasus pada minggu ke-41, atau naik sekitar 9,9 persen. Pada saat bersamaan, masyarakat masih harus menghadapi konsentrasi PM2.5 yang berada pada tingkat berbahaya.
Situasi tersebut memberikan gambaran mengenai sisi lain karhutla yang sering kali tidak terlihat dalam citra satelit maupun peta hotspot. Ketika sebuah lahan terbakar, api memang berada pada lokasi tertentu, tetapi asapnya dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan menjangkau permukiman yang jauh dari titik kebakaran. Masyarakat yang tidak pernah berada di dekat kobaran api tetap dapat menerima paparannya melalui udara yang mereka hirup setiap hari. Karena itu, dampak karhutla tidak cukup dihitung berdasarkan jumlah hotspot, luas lahan yang terbakar atau berapa operasi pemadaman yang telah dilakukan. Dampaknya juga perlu dibaca melalui puskesmas, rumah sakit, data penyakit pernapasan dan kehidupan masyarakat yang selama berminggu-minggu harus beradaptasi dengan udara buruk.
Ketika PM2.5 Berada pada Tingkat Berbahaya, Tidak Ada Kelompok yang Benar-benar Bebas dari Risiko
Pada Senin, 26 Oktober 2026, pemantauan kualitas udara di Pangkalan Bun kembali menunjukkan kondisi yang sangat buruk. BMKG melalui Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 berada pada tingkat yang dikategorikan berbahaya. Konsentrasi partikulat dapat berubah dalam hitungan jam mengikuti kondisi asap dan atmosfer, tetapi tingginya angka yang tercatat sepanjang periode karhutla memperlihatkan bahwa masyarakat menghadapi paparan lingkungan yang tidak dapat dianggap sebagai kondisi normal.
PM2.5 perlu mendapatkan perhatian khusus karena ukuran partikelnya sangat kecil, tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukuran tersebut memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Dalam konteks kabut asap akibat kebakaran biomassa, masyarakat juga dapat terpapar campuran berbagai partikel dan gas hasil pembakaran, sehingga persoalannya tidak sesederhana asap yang hanya mengurangi jarak pandang atau menyebabkan bau tidak nyaman.
Ketika kualitas udara telah mencapai kategori berbahaya, persoalannya bukan lagi hanya menyangkut orang yang mempunyai asma atau penyakit paru sebelumnya. Seluruh kelompok masyarakat perlu mengurangi paparan, sementara anak-anak, balita, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit pernapasan maupun kardiovaskular membutuhkan perlindungan lebih besar. Inilah alasan BMKG mengimbau masyarakat menghentikan aktivitas luar ruangan ketika kondisi mencapai tingkat berbahaya dan tetap berada di dalam bangunan dengan pintu tertutup, serta menggunakan pemurni udara apabila tersedia.
Pneumonia Naik 9,9 Persen dalam Satu Pekan
Data Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat menunjukkan perkembangan yang menarik sekaligus perlu diwaspadai. Total laporan tiga kelompok penyakit pernapasan sebenarnya sedikit menurun dari 446 kasus pada minggu epidemiologi ke-40 menjadi 434 pada minggu ke-41. Namun di tengah penurunan total tersebut, pneumonia justru meningkat dari 81 menjadi 89 laporan atau sekitar 9,9 persen.
Perbedaan tren tersebut menjadi alasan pneumonia perlu terus dipantau secara khusus. Sepanjang minggu epidemiologi ke-28 hingga ke-41, terdapat 956 laporan pneumonia, dan sebanyak 937 di antaranya diklasifikasikan sebagai pneumonia viral. Namun klasifikasi tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa seluruh kasus mempunyai satu penyebab yang sama. Diagnosis dan penyebab pneumonia tetap membutuhkan penilaian medis, sementara berbagai faktor seperti infeksi virus, bakteri, kondisi kesehatan individu dan faktor lingkungan dapat berinteraksi dalam perkembangan penyakit.
Hal yang sama berlaku ketika menghubungkan data tersebut dengan karhutla. Peningkatan pneumonia berlangsung ketika masyarakat menghadapi kabut asap dan konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi, tetapi data yang tersedia belum membuktikan bahwa seluruh kasus pneumonia tersebut secara langsung disebabkan oleh asap kebakaran. Pernyataan yang lebih tepat adalah bahwa masyarakat sedang menghadapi dua kondisi secara bersamaan: paparan kualitas udara yang sangat buruk dan tingginya beban penyakit pernapasan. Kondisi tersebut cukup menjadi alasan untuk meningkatkan perlindungan kesehatan tanpa harus membuat kesimpulan sebab-akibat yang melampaui bukti medis yang tersedia.
Lebih dari Lima Ribu Laporan ISPA dalam Periode Minggu ke-28 hingga ke-41
ISPA masih menjadi kelompok gangguan pernapasan yang paling banyak dilaporkan di Kotawaringin Barat. Dari total 6.076 laporan tiga kelompok penyakit pernapasan selama minggu epidemiologi ke-28 hingga ke-41, sebanyak 5.044 merupakan ISPA atau sekitar 83 persen. Dari kelompok tersebut, acute laryngopharyngitis atau peradangan laring dan faring menjadi gangguan yang paling banyak tercatat dengan 2.407 laporan, kemudian common cold atau selesma sebanyak 1.586 laporan dan radang tenggorokan akut sebanyak 711 laporan.
Tiga kelompok gangguan tersebut menyumbang sekitar 93,2 persen dari keseluruhan laporan ISPA pada periode yang dicatat. Angka tersebut memperlihatkan besarnya beban pelayanan kesehatan ketika masyarakat menghadapi kondisi udara yang buruk dalam waktu panjang. Puskesmas dan fasilitas kesehatan tidak hanya menangani pasien yang datang sekali ketika asap pertama muncul, tetapi dapat menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan selama periode karhutla berlangsung.
Distribusinya juga tidak merata. Wilayah kerja Natai Palingkau tercatat mempunyai jumlah laporan gabungan tertinggi sebanyak 1.026 kasus, diikuti Sungai Rangit sebanyak 904 kasus dan Madurejo sebanyak 782 kasus. Data wilayah seperti ini penting karena dapat membantu pemerintah menentukan lokasi yang membutuhkan penguatan pelayanan, distribusi masker, komunikasi risiko dan pemantauan kelompok rentan secara lebih intensif.
603 Kasus ISPA Tercatat pada Balita
Salah satu data yang paling perlu mendapatkan perhatian adalah kondisi anak berusia di bawah lima tahun. Rekap awal laporan harian ISPA hingga 25 Oktober 2026 mencatat 2.654 kasus berdasarkan kelompok umur, dengan 603 kasus atau sekitar 22,7 persen terjadi pada anak di bawah lima tahun. Sementara 2.051 kasus lainnya tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun. Data tersebut masih merupakan rekap awal dan belum mencakup seluruh laporan ISPA tingkat kabupaten, tetapi cukup memberikan gambaran bahwa balita menjadi bagian nyata dari masyarakat yang menghadapi gangguan pernapasan selama periode karhutla.
Balita tidak mempunyai pilihan untuk menentukan apakah lingkungan tempat mereka tinggal mempunyai kualitas udara yang baik. Mereka tidak dapat memutuskan untuk pindah ketika asap datang, tidak memahami angka PM2.5 dan sepenuhnya bergantung kepada orang dewasa serta kebijakan pemerintah untuk mendapatkan perlindungan. Karena itu, ketika kualitas udara berada pada tingkat berbahaya, perlindungan anak seharusnya menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan respons pemerintah.
Sekolah dan fasilitas pendidikan anak usia dini perlu mempunyai protokol kualitas udara, orang tua membutuhkan informasi yang mudah dipahami, fasilitas kesehatan harus siap menerima peningkatan keluhan, sementara pemerintah perlu memastikan kelompok rentan mendapatkan akses terhadap ruang dengan udara yang lebih aman ketika episode pencemaran berlangsung dalam waktu panjang.
Rumah Oksigen Membantu Warga, tetapi Udara Bersih Tetap Menjadi Tujuan Utama
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan fasilitas seperti Rumah Oksigen memberikan bantuan kepada masyarakat yang mengalami keluhan dan membutuhkan dukungan. Fasilitas semacam ini mempunyai nilai penting dalam situasi darurat, terutama ketika kabut asap berlangsung berhari-hari dan sebagian masyarakat mulai mengalami gangguan pernapasan.
Namun Rumah Oksigen tidak boleh menjadi simbol bahwa masyarakat harus belajar hidup berdampingan secara permanen dengan asap. Masker, oksigen, pemurni udara, ruangan tertutup dan layanan kesehatan merupakan lapisan perlindungan ketika pencemaran sudah terjadi, sedangkan tujuan kebijakan yang lebih mendasar harus tetap menghilangkan atau mengendalikan sumber pencemaran itu sendiri.
Tidak masuk akal apabila keberhasilan penanganan karhutla hanya diukur berdasarkan semakin banyaknya masker yang dibagikan atau semakin banyak Rumah Oksigen yang tersedia. Ukuran keberhasilan yang jauh lebih baik adalah ketika fasilitas tersebut semakin sedikit dibutuhkan karena kebakaran berhasil dicegah dan kualitas udara tetap berada pada kondisi yang lebih aman.
Tidak Semua Masyarakat Mempunyai Kemampuan Melindungi Diri dengan Cara yang Sama
Imbauan untuk tinggal di dalam rumah dan menggunakan air purifier memang dapat membantu mengurangi paparan, tetapi tidak semua masyarakat mempunyai kondisi tempat tinggal dan kemampuan ekonomi yang sama. Sebagian rumah mempunyai banyak celah sehingga asap tetap masuk, sementara tidak semua keluarga mampu membeli pemurni udara atau sistem filtrasi yang dapat digunakan terus-menerus.
Persoalannya menjadi semakin kompleks bagi pekerja luar ruangan. Pedagang, pengemudi, petugas lapangan, pekerja konstruksi, petani, petugas pemadam dan berbagai profesi lainnya mungkin tetap harus bekerja ketika udara berada pada kondisi berbahaya karena pendapatan mereka bergantung pada aktivitas harian.
Inilah mengapa pencemaran udara akibat karhutla juga merupakan persoalan keadilan lingkungan. Semua orang menghirup udara yang sama, tetapi kemampuan untuk menghindari paparannya tidak sama. Kelompok dengan sumber daya lebih besar mempunyai lebih banyak pilihan untuk melindungi diri, sementara masyarakat berpenghasilan rendah sering kali harus memilih antara menghindari asap dan tetap memperoleh penghasilan.
Karena itu, perlindungan kesehatan tidak dapat hanya berbentuk imbauan individual. Pemerintah dan pemberi kerja juga membutuhkan protokol yang mempertimbangkan kondisi kualitas udara, terutama ketika tingkat pencemaran telah mencapai kategori yang berbahaya bagi seluruh masyarakat.
Karhutla Harus Dipandang sebagai Keadaan Darurat Kesehatan, Bukan Hanya Kebakaran Lahan
Ketika api muncul di lahan, penanganannya biasanya berada dalam kerangka kebencanaan dan kehutanan. Petugas pemadam dikerahkan, sumur bor digunakan, sekat dibuat, water bombing dilakukan apabila diperlukan dan hotspot dipantau. Namun ketika asap mulai memasuki permukiman, karhutla berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Pada fase tersebut, sistem kesehatan harus berjalan sejajar dengan operasi pemadaman. Data kualitas udara perlu terhubung dengan kesiapan puskesmas dan rumah sakit, distribusi masker perlu diarahkan kepada kelompok yang paling membutuhkan, sekolah memerlukan protokol kegiatan, masyarakat harus menerima informasi yang konsisten, dan pemerintah perlu mempunyai mekanisme untuk menentukan kapan aktivitas luar ruang harus dikurangi.
Artinya, dashboard karhutla idealnya tidak hanya menampilkan hotspot dan hektare lahan terbakar. Data kualitas udara, jumlah kunjungan penyakit pernapasan, kapasitas fasilitas kesehatan dan kondisi kelompok rentan juga perlu menjadi bagian dari gambaran situasi.
Dengan pendekatan seperti itu, pemerintah tidak hanya mengetahui di mana tanah sedang terbakar, tetapi juga mengetahui di mana manusia mulai menerima dampaknya.
Penurunan Hotspot Belum Berarti Udara Langsung Bersih
Ada kesalahpahaman yang perlu dihindari dalam membaca perkembangan karhutla. Ketika jumlah hotspot mulai menurun, masyarakat mungkin berharap kualitas udara akan langsung kembali normal. Padahal asap yang telah terbentuk dapat tetap berada di atmosfer dan bergerak mengikuti angin, sementara kebakaran membara—terutama pada gambut—dapat terus menghasilkan asap meskipun nyala api tidak terlihat besar dari permukaan.
Karena itu, indikator hotspot, luas kebakaran dan kualitas udara harus dibaca secara bersamaan. Penurunan salah satu indikator belum tentu berarti seluruh risiko telah berakhir.
Hal ini penting terutama bagi masyarakat yang hendak kembali melakukan aktivitas luar ruang. Keputusan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada apakah langit terlihat sedikit lebih cerah, tetapi juga mempertimbangkan informasi kualitas udara aktual.
Hujan Dapat Membantu, tetapi Hujan Bukan Strategi Pencegahan
Setiap kali karhutla berlangsung panjang, harapan besar biasanya diarahkan kepada datangnya hujan. Curah hujan memang dapat membantu membasahi vegetasi, meningkatkan kelembapan tanah, memperbaiki kondisi atmosfer dan membantu proses pemadaman. Namun mengandalkan hujan untuk mengakhiri kebakaran bukanlah strategi pencegahan.
Jika pola yang terjadi setiap tahun adalah menunggu kemarau, menghadapi kebakaran, mengerahkan pemadaman kemudian berharap musim hujan datang, maka persoalan dasarnya tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Pencegahan harus dimulai sebelum musim kemarau melalui pemetaan kawasan rawan, patroli, pengawasan penggunaan api, pengelolaan vegetasi, perlindungan kawasan gambut, pengendalian drainase, pemantauan muka air, kesiapan desa serta penegakan hukum terhadap pelanggaran berdasarkan bukti.
Tujuan akhirnya adalah membuat hujan menjadi bantuan alami, bukan satu-satunya jalan keluar dari krisis.
Pada Gambut, Api Bisa Bersembunyi di Bawah Tanah
Kalimantan Tengah mempunyai bentang gambut yang luas sehingga karakter kebakaran gambut menjadi salah satu faktor penting dalam memahami karhutla. Gambut yang masih basah secara alami relatif sulit terbakar karena kandungan airnya tinggi. Namun ketika muka air turun dan lapisan organiknya mengering, material yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun tersebut dapat berubah menjadi bahan bakar.
Api kemudian tidak hanya membakar vegetasi di atas permukaan. Pembakaran membara dapat masuk ke lapisan gambut dan bergerak di bawah tanah. Kondisi tersebut membuat pemadaman lebih sulit karena bagian permukaan dapat terlihat tidak lagi menyala sementara panas masih bertahan di bawahnya.
Karena itu, menjaga hidrologi gambut merupakan bagian dari kebijakan kesehatan masyarakat. Sekilas keduanya terlihat tidak berhubungan, tetapi rantainya sangat jelas: gambut dikeringkan, risiko kebakaran meningkat, kebakaran menghasilkan asap, kualitas udara memburuk dan masyarakat menerima paparannya.
Dengan memahami rantai tersebut, investasi dalam restorasi dan pembasahan gambut tidak hanya dapat dipandang sebagai program konservasi. Ia juga merupakan investasi pencegahan pencemaran udara dan kesehatan.
Jangan Hanya Menghitung Berapa Pasien yang Datang, Hitung Juga Berapa Paparan yang Berhasil Dicegah
Data kesehatan sangat penting karena menunjukkan besarnya dampak yang sedang terjadi. Namun tujuan akhir kebijakan bukan menghasilkan pencatatan penyakit yang semakin lengkap sementara masyarakat terus terpapar setiap tahun. Data seharusnya digunakan untuk mengubah strategi.
Jika suatu wilayah berulang kali mengalami peningkatan penyakit pernapasan bersamaan dengan periode karhutla, informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan kawasan prioritas pencegahan. Data kesehatan dapat dibandingkan dengan hotspot, area terbakar, konsentrasi PM2.5, kondisi gambut, arah angin dan distribusi penduduk.
Dari sana pemerintah dapat mengetahui bukan hanya di mana kebakaran paling banyak terjadi, tetapi juga kebakaran mana yang berpotensi memberikan dampak terbesar terhadap populasi.
Pendekatan berbasis data seperti ini memungkinkan sumber daya pencegahan ditempatkan sebelum krisis kesehatan muncul.
Anak-anak Kobar Tidak Seharusnya Tumbuh dengan Menganggap Asap sebagai Musim Tahunan
Mungkin salah satu konsekuensi sosial yang paling mengkhawatirkan dari karhutla berulang adalah normalisasi. Ketika asap datang hampir setiap musim kemarau, masyarakat perlahan terbiasa memakai masker, sekolah menyesuaikan kegiatan, orang tua menutup jendela dan fasilitas kesehatan bersiap menerima peningkatan pasien.
Adaptasi memang diperlukan untuk bertahan menghadapi kondisi darurat, tetapi keadaan darurat tidak boleh berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Anak-anak seharusnya tidak tumbuh dengan menganggap langit berkabut asap sebagai bagian biasa dari musim kemarau. Orang tua tidak seharusnya setiap tahun harus mempertimbangkan apakah aman membawa anak keluar rumah. Masyarakat tidak seharusnya membutuhkan Rumah Oksigen sebagai bagian rutin dari kehidupan tahunan.
Normalisasi seperti inilah yang harus dicegah.
Masker Melindungi Pernapasan, tetapi Tidak Memadamkan Api
Ketika kualitas udara memburuk, masker yang sesuai, pembatasan aktivitas luar ruang, ruangan dengan udara lebih bersih dan pelayanan kesehatan menjadi tindakan penting untuk mengurangi risiko. Namun semua tindakan tersebut berada di sisi hilir persoalan.
Di sisi hulu terdapat lahan yang terbakar.
Karena itu, kebijakan kesehatan dan pengendalian karhutla harus bertemu pada satu tujuan yang sama. Dinas kesehatan melindungi masyarakat yang sudah terpapar, sementara instansi kehutanan, lingkungan, BPBD, pemerintah daerah, aparat, perusahaan dan masyarakat bekerja agar sumber asap dihentikan serta kebakaran berikutnya dicegah.
Jika hanya sisi kesehatan yang diperkuat tanpa menghentikan kebakaran, rumah sakit akan terus menerima pasien. Jika hanya api yang dipadamkan tanpa memperhatikan masyarakat yang telah menghirup asap selama berminggu-minggu, sebagian dampak bencana juga terabaikan.
Keduanya harus berjalan bersamaan.
Karhutla Tidak Hanya Membakar Hutan, tetapi Mengambil Udara Bersih dari Masyarakat
Data Kotawaringin Barat memberikan cara lain untuk memahami arti sebuah kebakaran. Ketika ribuan laporan ISPA tercatat, pneumonia meningkat dan balita ikut masuk dalam statistik gangguan pernapasan, persoalannya tidak lagi hanya mengenai lahan yang terbakar. Kebakaran telah memasuki ruang hidup manusia melalui udara.
Inilah yang membuat biaya karhutla jauh lebih besar daripada luas area yang hangus. Ada biaya pelayanan kesehatan, kehilangan produktivitas, terganggunya pendidikan, kebutuhan perlindungan kelompok rentan dan tekanan psikologis masyarakat yang harus menjalani hari demi hari dalam kondisi asap.
Masyarakat dapat menggunakan masker. Rumah Oksigen dapat dibuka. Puskesmas dapat menambah kesiapan. Sekolah dapat membatasi aktivitas. Rumah dapat ditutup rapat. Semua tindakan tersebut diperlukan ketika krisis berlangsung, tetapi semuanya merupakan bentuk pertahanan setelah udara sudah tercemar.
Pencegahan yang paling efektif tetaplah memastikan asap tersebut tidak diproduksi sejak awal.
Karena itu, kenaikan pneumonia 9,9 persen di Kotawaringin Barat seharusnya tidak hanya dibaca sebagai statistik kesehatan mingguan. Angka tersebut perlu menjadi peringatan bahwa konsekuensi karhutla bergerak jauh melampaui batas lahan yang terbakar.
Ketika api menyala di hutan atau gambut, asapnya dapat memasuki rumah, sekolah, tempat kerja dan akhirnya paru-paru manusia.
Karhutla tidak berhenti ketika pohon selesai terbakar. Bagi masyarakat yang hidup di bawah kabut asap, bencana terus berlangsung pada setiap tarikan napas.
Maka ukuran keberhasilan terbesar bukanlah berapa banyak oksigen yang berhasil disediakan setelah masyarakat sesak, berapa juta masker yang dibagikan atau berapa pasien yang berhasil dilayani. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika udara kembali aman, anak-anak dapat bermain di luar tanpa menghirup asap, fasilitas kesehatan tidak mengalami lonjakan penyakit pernapasan dan masyarakat Kotawaringin Barat tidak lagi harus menjalani musim kemarau dengan pertanyaan yang sama setiap tahun:
“Sampai kapan kami harus menghirup asap ini?”




