Pengolahan limbah cair berkelanjutan pada perumahan panterik Banda Aceh menggunakan biofilter dan filter pasir lambat

Berkembangnya jumlah penduduk kota dan peningkatan pemakaian air bersih dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya penambahan volume limbah cair domestik yang di buang ke lingkungan. Limbah cair domestik terbagi menjadi black water (mengandung feses) dan grey water berupa sisa-sisa hasil pencucian, sabun, detergen, urine, bahan organik terlarut lainnya. Merujuk kepada https://bandaacehkota.go.id/p/kecamatan_gampong.html, Kota Banda Aceh [1] memiliki 9 kecamatan dan 90 gampong (desa). Gampong Panterik di Kecamatan Lueng Bata, memiliki tingkat kepadatan tinggi dengan jumlah penduduk sekitar 24.581 jiwa lebih, terutama di lokasi Perumahan Panterik. Perumahan ini memiliki kolam terbuka penampung limbah cair domestik dari perumahan yang karakteristik airnya berwarna hitam keruh, banyak ditumbuhi enceng gondok dan seringkali menimbulkan bau menyengat pada waktu-waktu tertentu. Menurut [2], pembuangan limbah cair proses industri dan pemukiman tanpa pengolahan terlebih dahulu diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Untuk itu diperlukan metode pengelolaan limbah cair domestik yang tepat untuk mengatasi permasalahan warna dan bau tersebut. Diantaranya dapat menggunakan proses fisika, kimia dan biologis atau kombinasi dari proses-proses tersebut. Riset [3] menyebutkan, proses biofilter dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis yang telah diisi dengan media penyangga untuk pengembangbiakkan mikroorganisme aerobik atau anaerobik. Prinsip biofilter melibatkan proses biofiltrasi dengan struktur media menyerupai saringan dan tersusun dari tumpukan media penyangga yang tersusun teratur maupun acak di dalam biofilter. Lapisan massa yang tipis (biofilm) melekat pada media penyangga sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri. Pembuangan limbah domestik perumahan saat ini sebagian besar dilakukan langsung ke sungai sehingga dapat meningkatkan kandungan COD dan TSS dalam air sungai. Berdasarkan studi [4], air sungai tidak dapat digunakan sebagai sumber air minum atau kebutuhan rumah tangga jika parameter COD dan TSS melebihi baku mutu. Pada kisaran nilai BOD menengah, dapat digunakan proses biologis aerobic, sedang untuk nilai BOD tinggi dapat beralih ke proses aneaerobik [5]. Proses biofiltrasi dapat diterapkan dalam pengolahan limbah cair domestik, karena menurut [6] unit biofilter mudah digunakan pada masyarakat kecil, mudah dikelola dan sekaligus dapat menghilangkan unsur-unsur organik dan padatan tersuspensi. Perbandingan antara proses lumpur aktif dengan biofilter aerobik tercelup (SABs) ditunjukkan pada keunngulannya dalam retensi padatan yang lebih baik. Apabila dikehendaki pengolahan limbah domestik dengan Intalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berjalan efektif, perlu diperhatikan kualitas air limbah secara rutin minimal 6 bulan sekali. Kualitas air limbah dan pemeliharaan dari IPAL berhubungan eart dengan efisiensi IPAL yang fluktiatif sesuai debit air yang masuk ke sistem [7]. Dalam [8], untuk menghasilkan sistem pengolahan air limbah yang stabil dan konsisten, faktor-faktor seperti karakteristik influen air limbah, konsumsi pemakaian air, kapasitas pengolahan, bahan dan konstruksi serta teknik pengelolaan limbah sangat berpengaruh pada kinerja pengolahan air limbah. Biofilter dapat diukur efektifitasnya berdasarkan jenis dan bentuk media sebagai penyedia area permukaan untuk perkembangbiakan mikroorganisme atau bakteri pengurai. Selain itu, untuk mengurangi kadar padatan tersuspensi atau Total Suspended Solid yang masih tersisa dalam aliran limbah dapat digunakan metode filtrasi. Penelitian [9] menggunakan eceng gondok dan biofilter media bioball untuk mengolah limbah cair domestik dan menunjukkan hasil penyisihan TSS dan COD yang mampu memenuhi baku air limbah domestik. Studi [10] menunjukkan keberhasilan penyisihan parameter air limbah menggunakan kombinasi sistem kolam (Pond) – biofilm media bioball dan jaring ikan, dengan memanfaatkan kumpulan sel mikroorganisme, khususnya bakteri, yang melekat pada permukaan media penambat. Namun, pada penelitian ini digunakan media pelekatan dari bekas sedotan plastik, yang dapat berfungsi lama sebagai media tumbuh biofilm yang sifatnya stabil dan tidak mudah rusak. Hal ini memungkinkan dalam penerapan pengolahan limbah yang, dimana dapat bertahan lama dan dapat digunakan berulang- ulang dalam mengatasi limbah plastik bekas. Pengelolaan limbah cair domestik yang baik sangat penting dilakukan untuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan ke badan air akibat tingginya kadar COD, BOD dan TSS [11]. Berdasarkan sumber timbulannya, limbah cair domestik dan non-domestik dapat dikelompokan menurut sifat fisika, kimia, dan biologis [12]. Keunggulan proses biofilter diantaranya memiliki kemudahan operasional, sedikit menghasilkan lumpur, dan mampu bertahan pada variasi volume air limbah. Sumber pencemar terbesar di perairan adalah air limbah domestik, akibat tingginya kandungan zat organik yang masuk ke badan air penerima. Semakin meningkatnya pencemaran dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat [13]. Studi oleh [14] menyimpulkan bahwa pengolahan limbah domestik grey water dengan proses biofilter anaerob dan biofilter aerob memiliki efektivitas reduksi berkisar antara 56,73% – 97,65% dan telah memenuhi baku mutu untuk parameter, pH, BOD, COD, amoniak, minyak lemak dan Total Coliform, namun untuk parameter TSS dan Total Coliform perlu evaluasi operasional. Kebijakan tentang baku mutu limbah hasil kegiatan domestik yang tertuang dalam Permen LHK Nomor 68 Tahun 2016, menyebutkan nilai maksimal yang diizinkan untuk parameter TSS adalah 30 mg/liter, COD 100 mg/L, BOD 30 mg/L, minyak lemak 5 mg/L dan Ammoniak 10 mg/L [15]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas limbah cair domestik setelah diolah dengan proses biofilter dan pasir lambat, setelah waktu kontak sebanyak 0 hari, 2 hari, 4 hari dan 6 hari.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




